![]() |
| Dominasi AS dan Mewujudkan Dunia Multipolar | AI Generated |
Dalam sebulan terakhir, puluhan jet tempur dan pesawat militer mereka bebas keluar masuk wilayah Iran tanpa ada yang bisa mencegat. Puluhan target dibom habis-habisan. Infrastruktur publik, dari jembatan sampai kilang minyak pun porak poranda.
Sejumlah pejabat tinggi Iran tewas, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, dan Sekretaris Dewan keamanan Iran Ali Larijani.
Banyak yang menduga tewasnya para petinggi akan membuat Iran jatuh dalam waktu singkat. Dalam bidak catur, jika raja dan petinggi berhasil dikalahkan, maka permainan otomatis selesai.
Namun, ternyata perang tidak semudah strategi di atas papan hitam putih.
Iran masih terus bertahan, meskipun angkatan udara dan laut mereka hancur lebur. Didukung oleh drone bunuh diri (Shaheed) dan pasokan rudal cadangan, mereka mampu menembus wilayah Israel dan memaksa para penduduk untuk berlindung di bunker.
Iran bahkan sempat menembak jatuh pesawat tempur F-35 milik AS dan nyaris menangkap pilotnya. Beruntung, AS segera mengirimkan bantuan dan berhasil menyelamatkan penerbang mereka.
Akan tetapi, tak ada yang berdampak signifikan melebihi penutupan Selat Hormuz.
Selama perang, Iran getol mengintimidasi kapal dagang dan tanker yang melintas di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia tersebut. Akibatnya, distribusi energi dari Timur Tengah jadi terganggu.
Padahal, negara-negara Asia dan Eropa sangat bergantung dengan pasokan energi dari Timur Tengah, terutama minyak. Sekali saja terganggu, maka efeknya bisa menyebar kemana-mana.
Krisis di Hormuz telah menyebabkan masalah energi global.
Di Filipina, kelangkaan suplai minyak memaksa warga untuk berjalan kaki ke kantor dan sekolah, dan membuat harga barang meroket.
Sementara Thailand menghadapi panic buying BBM, dimana masyarakat menyerbu SPBU sembari membawa jerigen untuk mengamankan pasokan bensin untuk diri sendiri.
Indonesia pun ikut menaikkan harga minyak, khususnya Dexlite dan bahan bakar non subsidi yang naik hampir Rp 10 ribu.
Dampaknya pun langsung terasa ke harga barang kebutuhan, yang distribusinya sangat bergantung pada kendaraan bermotor.
Sejumlah pedagang dan ritel sudah menaikkan harga sayuran, daging ayam, ikan, dan produk pangan lainnya. Orang yang terbiasa belanja harian pasti menyadari bahwa uang mereka cepat habis hanya untuk membeli sembako akhir-akhir ini.
Situasi ini menegaskan bahwa posisi Selat Hormuz masih sangat vital, dan siapa pun yang berhasil mendominasi kawasan itu akan jadi pemain penting ekonomi dunia. Dan suka tidak suka, Iran sejauh ini mampu memainkan peran mereka dengan baik, meski dibombardir dari segala penjuru.
Itulah kenapa, mereka berani mengambil kebijakan tak terduga; mewajibkan negara lain untuk membeli minyak mereka dengan Yuan Cina.
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Dollar AS ditetapkan sebagai alat pembayaran utama perdagangan internasional. Semua transaksi antar bangsa hingga perhitungan GDP sekalipun dilakukan dengan Dollar AS. Begitu juga cadangan devisa yang dimiliki oleh suatu negara, sudah pasti dalam bentuk Dollar AS.
Skema keuangan ini sangat menguntungkan AS, sebab mereka dapat mencetak uang sebanyak mungkin tanpa khawatir inflasi atau Dollar AS akan kehilangan nilainya. Setiap penukaran mata uang ke Dollar AS langsung masuk ke cadangan devisa nasional mereka.
Tak heran, AS mampu membiayai perang dan operasi militer luar negeri mereka yang super mahal meskipun performa ekonomi belakangan ini kurang memuaskan. Pada kuartal akhir 2025 misalnya, pertumbuhan PDB AS hanya sebesar 0,5% (yoy). Bukan pencapaian yang bagus untuk negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Dengan "menyingkirkan" Dollar AS, Iran jelas ingin membuktikan pada dunia bahwa transaksi internasional dapat dilakukan tanpa campur tangan Paman Sam. Harapan mereka, negara lain akan terinspirasi untuk meninggalkan Dollar AS, dan memberikan pukulan besar bagi struktur finansial AS.
Mengapa Iran memilih Yuan Cina sebagai alternatif?
Pertama, mata uang Iran sudah sangat lemah akibat sanksi internasional dan salah urus ekonomi selama bertahun-tahun.
Berdasarkan data per Mei 2026, 1 Dollar AS sama dengan 1,3 juta Rial Iran. Hal ini membuat mata uang Iran seperti tak ada harganya lagi, dan menjadi salah satu faktor meletusnya aksi protes masyarakat pada Januari - Februari 2026 lalu.
Kedua, Cina merupakan pesaing utama AS. Hanya dalam waktu kurang dari tiga dekade, mereka bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, satu peringkat di bawah AS.
Perkembangan cepat ini didukung oleh kapasitas industri yang besar dan efisien. Hampir seluruh produk manufaktur hingga pertanian di dunia adalah buatan Cina, sebab mereka memosisikan diri sebagai "pabrik raksasa" yang menerima order produksi massal dari seluruh dunia. Termasuk perusahaan AS macam Apple, Dell, HP, dan sebagainya.
Kemajuan Cina telah dianggap menjadi ancaman bagi AS, khususnya di bawah pemerintahan Donald Trump. Perang dagang hingga kenaikan tarif ratusan persen atas produk buatan Cina membuat hubungan kedua negara memanas.
Belum lagi masalah perbedaan ideologi, dimana Cina menganut sosialis komunis yang cenderung otoriter, sementara AS menjunjung demokrasi liberal. Isu pembungkaman oposisi, korupsi, hingga penindasan etnis dan agama minoritas kerap dihembuskan oleh
Seperti pepatah "musuh dari musuhku adalah temanku", kesamaan nasib "dimusuhi" oleh AS membuat Cina menjadi sekutu potensial di mata Iran.
Sebenarnya kedua negara sudah menjalin hubungan yang cukup akrab. Iran memasok minyak untuk Cina dengan harga murah. Sebaliknya, Cina memberikan peralatan militer dan teknologi mutakhir untuk sistem pertahanan serta infrastruktur publik.
Meski begitu, Cina kelihatan masih ragu untuk membantu Iran sepenuhnya. Buktinya, ketika AS-Israel menyerbu Iran hingga menewaskan Khamenei, Cina tak mengirimkan armada maupun suplai senjata tambahan. Respon yang diberikan sekedar mengecam di forum internasional. Tak lebih dari itu.
Makanya, penetapan Yuan sebagai alat transaksi minyak mungkin jadi manuver Iran buat membujuk Cina agar lebih aktif mendukung Iran.
Berhasil atau tidak, belum ada yang tahu. Namun jika sukses, pengaruh AS disinyalir akan lebih lemah dari sebelumnya, dan berpotensi mendorong terwujudnya dunia multipolar. Dunia yang tidak didominasi oleh satu negara adidaya.
Dunia multipolar sudah sering digaungkan oleh pakar geopolitik sejak lama. Menurut mereka, cengkraman AS atas tatanan global berada pada level yang tidak sehat, hingga seolah menjadi satu-satunya kekuatan tunggal yang bisa mendikte arah kebijakan dunia.
Seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan kehadiran AS yang kian aktif pasca insiden 7 Oktober, narasi dunia multipolar kembali mencuat, terutama oleh sekutu-sekutu Iran.
Presiden Rusia Vladimir Putin, misalnya, menyatakan bahwa pengaruh AS yang "melemah" harus menjadi kesempatan emas untuk membangun dunia multipolar. Kehadiran aliansi alternatif seperti BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), menurut Putin, akan menjadi pilar utama tatanan baru yang mulai bangkit.
Xi Jinping, Presiden Cina juga punya pandangan serupa. Dalam salah satu pidatonya di World Economic Forum (WEF), ia mendorong multilateralisme dan globalisasi ekonomi yang adil tanpa satu kekuatan adidaya.
"Pilih dialog daripada konfrontasi, inklusivitas daripada eksklusi, dan menentang segala bentuk unilateralisme, proteksionisme, hegemoni, serta politik kekuasaan," ucap Xi.
Miliaran dollar sudah dikeluarkan untuk mengimbangi dominasi AS, sebagian besar mengucur ke BRICS dan aliansi multilateral non-AS lainnya. Namun, apakah dunia multipolar tersebut akan segera terwujud?
Nyatanya, jalan untuk menumbangkan hegemoni AS masih sangat panjang. Mayoritas negara di dunia masih bergantung pada pasar AS dan nyaman bertransaksi dengan dollar, Mastercard, Visa, serta instrumen finansial Barat lainnya.
Cina dan Rusia, yang jadi motor penggerak utama gerakan multipolar saja, masih sangat bergantung pada ekspor ke AS untuk menggenjot perekonomian mereka.
Perang Tarif dengan AS selama pemerintahan Trump diprediksi menghantam sektor industri Cina, dan membuat kapasitas produksi mereka turun ke angka 70 persen. Penurunan sebanyak itu jelas pukulan telak, sebab memaksa perusahaan Cina mengurangi aktivitas dan merumahkan ribuan pegawai sebagai penghematan.
Alhasil, pengangguran meningkat khususnya di kalangan anak muda. Unjuk rasa dan ketegangan mulai muncul di sejumlah kota, yang berpotensi mengganggu stabilitas dalam negeri.
Sedangkan Rusia, sektor gas dan minyak mereka begitu terdampak dengan sanksi AS setelah perang di Ukraina berkecamuk. Meski terdapat pembeli alternatif seperti India dan Cina, tetap saja terjadi penurunan.
Agar bisa mewujudkan dunia multipolar, seluruh negara harus berani mengurangi ketergantungan mereka terhadap AS.
Namun jika Rusia dan Cina, yang termasuk kekuatan raksasa global saja masih terseok-seok, apakah negara lain mampu?
