Soft Power: Strategi Politik Memikat Negara Lain
| Ilustrasi Soft Power | AI Generated |
Pernah nggak sih kalian berpikir, kenapa ada negara-negara yang sangat kuat di bidang kebudayaan, sampai menarik perhatian jutaan orang dari seluruh dunia?
Contohnya saja Korea Selatan (Korsel). Mereka bukan negara yang luas. Jika dibandingkan pulau Jawa pun, ukurannya masih lebih kecil. Namun, pengaruhnya sangat besar di panggung internasional.
Hal ini tercermin dari Hallyu Wave, sebuah fenomena kultural yang meledak selama dua dekade terakhir. Produk-produk budaya dari Korsel, mulai dari musik, film, hingga drama televisi laris manis di pasaran.
Mereka juga berhasil menjadi kiblat tren anak muda masa kini, yang tergila-gila dengan skin care, kosmetik, dan gaya berpakaian (fashion) ala Korea.
Indonesia adalah salah satu basis penggemar terbesar bagi K-Pop, julukan untuk budaya populer Korsel. Sejumlah perusahaan pun berlomba-lomba menjadikan artis Korsel sebagai brand ambassador (BA) demi mendongkrak citra produk atau jasa yang mereka tawarkan.
| Salah satu produk kosmetik Indonesia yang menggunakan BA artis Korsel | Azarine |
Bergeser sedikit ke timur, Jepang pun turut dikenal sebagai raksasa budaya global. Bahkan sudah dimulai jauh sebelum Korsel, tepatnya pada masa Perang Dunia II.
Pada saat itu, militer Jepang menggunakan animasi untuk menyebarkan propaganda nasionalisme, juga sentimen anti Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Setelah perang berakhir, animasi pun berubah jadi produk komersial yang lambat laun menjelma menjadi anime.
Siapa sih yang nggak kenal dengan Tetsuwan Atom (Astro Boy), Doraemon, Dragon Ball, Sailor Moon, One Piece, dan Naruto? Itulah judul-judul anime terkenal yang pernah mengisi masa kecil kita.
Saking tingginya popularitas anime, ia menjadi daya tarik utama festival budaya Jepang yang digelar di berbagai negara. Hingga akhirnya, anime menjadi unsur yang tak terpisahkan dari identitas Jepang, meski tergolong baru.
| Perkembangan art style (gaya seni) anime dari tahun ke tahun | Nihon Narratives |
Sekilas, budaya pop Korsel dan Jepang tampak berbeda, dan hal ini wajar karena setiap negara punya ciri khas masing-masing.
Namun ada satu kesamaan di antara keduanya. Yaitu dukungan negara yang kuat.
Hallyu Wave lahir dari kebijakan Presiden Kim Dae-jung setelah terjadinya Krisis Finansial Asia 1997, yang membuat industri Korsel bangkrut dan 2 juta orang kehilangan pekerjaan.
Menurut Kim, industri manufaktur nggak boleh jadi satu-satunya tumpuan. Harus ada mesin pertumbuhan ekonomi baru yang punya nilai tambah tinggi dan tak terlalu bergantung pada sumber daya alam.
Mereka pun mulai mencari sektor alternatif, dan pilihan jatuh ke industri kreatif.
Pemerintah Korsel mengucurkan dana raksasa ke rumah produksi dan manajemen talenta, serta membangun ekosistem kreatif yang aman dan terintegrasi lewat sejumlah undang-undang.
Sedangkan pemerintah Jepang mulai melihat potensi industri kreatif mereka yang besar memasuki abad ke-21.
Pada tahun 2002, Jepang meluncurkan Cool Japan, sebuah program ambisius untuk menyatukan pekerja seni, kreator, perusahaan hiburan, dan lembaga publik buat menyebarkan budaya Jepang ke seluruh dunia. Termasuk budaya kontemporer.
Demi mendukung program ini, pemerintah Jepang membentuk Cool Japan Fund, yang dirancang sebagai wadah dana investasi publik-swasta untuk industri kreatif dan event-event kebudayaan Jepang di seluruh dunia.
Jika kalian pernah datang ke event seperti Jak-Japan Matsuri, Gelar Jepang UI (GJUI), Djakarta Ennichi, D'Jafu dan sejenisnya, nah biasanya panitia diberikan dana sponsor dari Cool Japan Fund dan afiliasi mereka. Sebagai gantinya, perusahaan Jepang leluasa membuka booth dan promosi produk mereka di acara itu.
Makanya, saya sering menemukan booth Yamaha, Toyota, Sharp, atau Hitachi di event budaya Jepang. Padahal semua perusahaan itu gak ada hubungan dengan kebudayaan :)
Sejauh ini, kebijakan Korsel dan Jepang sukses menarik perhatian masyarakat dunia terhadap budaya mereka. Menariknya, efeknya tak hanya ke sektor ekonomi atau sosial budaya saja. Politik juga termasuk.
Ketika Jepang bersitegang dengan Cina dalam isu Taiwan, ucapan dukungan terhadap Jepang mengalir dari fanbase anime, film, dan budaya kontemporer. Mereka bahkan pasang badan berdebat dengan netizen Cina di media sosial.
Di saat yang sama, Korsel juga dapat support dari para fans K-Pop saat ancaman dari Korea Utara (Korut) meningkat. Ada juga netizen yang sampai memberi semangat kepada artis favorit mereka yang harus ikut wajib militer.
Kalo sudah begini, budaya kontemporer dan industri kreatif telah menjelma menjadi soft power bagi kedua negara.
Dicetuskan pertama kali oleh Joseph Nye, seorang ahli politik dan diplomat AS, soft power adalah kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara untuk mempengaruhi pihak lain dengan daya tarik dan persuasif.
Sebelumnya, negara cenderung memakai strategi hard power, yang menekankan pada cara-cara represif dan memaksa, untuk mencapai tujuan mereka.
Contohnya AS pada masa perang dingin, yang mengerahkan armada militer ke Korea, Vietnam, dan Afghanistan demi membendung pengaruh komunisme. Begitu pun Uni Soviet (Rusia) yang menginvasi Cekoslowakia untuk menggulingkan pemerintahan reformis Alexander Dubček pada tahun 1968.
Biarpun agenda nasional tercapai, hard power menghabiskan sumber daya yang sangat besar, dan merusak kehidupan masyarakat. Belum termasuk jutaan korban yang tewas atau menderita seumur hidup.
Soft power dinilai sebagai solusi alternatif, karena nggak melibatkan kekerasan, serta menjunjung tinggi perdamaian dan kolaborasi yang sehat.
Menurut Nye, keberhasilan soft power suatu negara sangat bertumpu pada tiga pilar, yaitu budaya (culture), nilai-nilai politik (political values), dan kebijakan luar negeri (foreign policies).
-----
1. Budaya
| Budaya bersih di Jepang | Web Japan |
Budaya yang dimaksud oleh Nye disini bukan sekadar tarian tradisional, pakaian adat, atau warisan sejarah, melainkan semua ekspresi hidup suatu masyarakat yang dapat menimbulkan ketertarikan: musik, film, makanan, bahasa, sastra, pendidikan, gaya hidup, teknologi kreatif, hingga budaya populer.
Budaya menjadi soft power ketika orang luar melihatnya sebagai sesuatu yang menarik, keren, indah, inspiratif, atau layak ditiru. Misalnya, suatu negara bisa membuat orang asing tertarik belajar bahasanya karena film, musik, anime, drama, kuliner, desain, atau gaya hidupnya.
Dalam situasi seperti ini, negara tersebut tidak perlu memaksa siapa pun. Orang datang sendiri karena merasa tertarik.
Namun, budaya tidak selalu otomatis menghasilkan soft power. Budaya hanya menjadi sumber kekuatan jika diterima secara positif oleh pihak lain. Nye menekankan bahwa budaya berfungsi sebagai soft power di tempat-tempat di mana budaya itu dianggap menarik.
Artinya, budaya yang kuat di dalam negeri belum tentu menarik di luar negeri. Sebaliknya, budaya yang dikemas dengan baik, mudah diakses, dan memiliki nilai universal bisa menjadi pintu masuk bagi pengaruh yang lebih luas.
2. Nilai Politik
Sumber kedua adalah political values atau nilai-nilai politik. Ini mencakup prinsip yang diklaim dan dijalankan oleh suatu negara, seperti demokrasi, keadilan, kebebasan, hak asasi manusia, kesetaraan, transparansi, toleransi, atau penghormatan terhadap hukum.
Namun, ada syarat penting: nilai politik hanya menjadi soft power jika negara tersebut benar-benar hidup sesuai dengan nilai yang diklaimnya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Nye menekankan bahwa nilai politik menjadi sumber soft power ketika suatu negara mampu “live up to them”—menjalankan nilai itu secara nyata, bukan hanya menjadikannya slogan.
Di sinilah letak tantangannya. Sebuah negara boleh saja mempromosikan demokrasi, toleransi, atau hak asasi manusia. Tetapi jika di dalam negerinya terjadi diskriminasi, korupsi, represi, atau ketidakadilan yang terlihat jelas oleh dunia, maka nilai politik itu kehilangan daya tarik. Bahkan, ia bisa berbalik menjadi sumber ketidakpercayaan.
Dengan kata lain, soft power tidak bisa dibangun hanya melalui kampanye citra. Ia membutuhkan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Negara yang ingin dipandang menarik harus memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang ia promosikan memang dijalankan dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks populer, nilai politik adalah “karakter” sebuah negara. Budaya mungkin membuat orang tertarik, tetapi nilai politik membuat orang bertanya: “Apakah negara ini bisa dipercaya? Apakah prinsipnya konsisten? Apakah ia layak dijadikan contoh?”
3. Kebijakan Luar Negeri
Ketiga adalah foreign policies atau kebijakan luar negeri. Ini berkaitan dengan bagaimana suatu negara bertindak di dunia internasional: cara ia berdiplomasi, membantu negara lain, menyelesaikan konflik, merespons krisis, membangun kerja sama, atau menggunakan kekuatan militernya.
Menurut Nye, kebijakan luar negeri menjadi sumber soft power ketika negara lain melihatnya sebagai legitimate dan memiliki otoritas moral. Dengan kata lain, dianggap sah, adil, masuk akal, dan tidak semata-mata egoistis.
Misalnya, bantuan kemanusiaan, diplomasi perdamaian, kerja sama pendidikan, komitmen terhadap isu lingkungan, atau dukungan terhadap pembangunan bisa meningkatkan soft power jika dipersepsikan tulus dan bermanfaat.
Sebaliknya, kebijakan luar negeri yang dianggap munafik, agresif, sepihak, atau melanggar norma internasional dapat merusak soft power, meskipun negara tersebut memiliki budaya populer yang sangat kuat.
Inilah sebabnya soft power sangat bergantung pada persepsi internasional. Negara mungkin merasa kebijakannya benar, tetapi yang menentukan daya tariknya adalah bagaimana kebijakan itu dilihat oleh masyarakat dan pemerintah negara lain.
Dalam bahasa sederhana, kebijakan luar negeri adalah “perilaku” sebuah negara di hadapan dunia. Jika perilakunya dianggap adil dan dapat dipercaya, pengaruhnya bertambah. Jika dianggap arogan atau tidak konsisten, daya tariknya menurun.
-----
Singkatnya, ketiga pilar ini saling berkaitan satu sama lain. Budaya dapat membuka pintu ketertarikan. Nilai politik memberi dasar kepercayaan. Kebijakan luar negeri menentukan apakah negara itu dipandang bertanggung jawab atau tidak.
Sebuah negara bisa sangat kuat secara budaya, tetapi kehilangan soft power karena nilai politik dan kebijakan luar negerinya dianggap bermasalah. \
Sebaliknya, negara yang tidak terlalu dominan secara budaya tetap bisa memiliki soft power jika nilai politiknya dihormati dan kebijakan luar negerinya dianggap konstruktif.
Jadi, soft power bukan hanya soal promosi budaya, festival, film, makanan, atau pariwisata. Itu hanya satu bagian. Dalam kerangka Nye, soft power yang kuat membutuhkan kombinasi antara daya tarik budaya, kredibilitas nilai, dan legitimasi kebijakan.
Tadi kita sudah membahas mengenai Jepang dan Korsel. Apakah ada negara lain yang juga memanfaatkan soft power?
Jelas ada. Bahkan, soft power mereka sudah terang-terangan dipakai dalam politik praktis.
Pada masa pemerintahan Barack Obama, terutama ketika Hillary Clinton menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS, muncul gagasan bernama 21st Century Statecraft.
Secara sederhana, 21st Century Statecraft adalah cara AS menyesuaikan diplomasi dengan dunia digital.
Diplomasi tidak lagi hanya dilakukan lewat pertemuan antarpejabat, kedutaan besar, atau perjanjian resmi, tetapi juga lewat internet, media sosial, teknologi, komunitas sipil, kampanye digital, dan opini publik global.
Pada masa pemerintahan Barack Obama, terutama saat Hillary Clinton menjadi Menteri Luar Negeri AS, gagasan ini dipakai untuk menunjukkan bahwa Amerika ingin tetap berpengaruh di dunia baru yang semakin terkoneksi.
AS tidak hanya ingin dikenal sebagai negara dengan militer dan ekonomi kuat, tetapi juga sebagai simbol demokrasi, kebebasan internet, inovasi teknologi, pendidikan tinggi, dan masyarakat terbuka.
Inggris menggunakan bahasa, pendidikan, universitas, British Council, musik, film, dan budaya populer. Orang yang belajar bahasa Inggris, kuliah di Inggris, atau mengikuti program budaya Inggris bisa membangun kedekatan jangka panjang dengan negara tersebut.
Hal ini membuat pengaruh Inggris tetap besar, meskipun imperiumnya sudah lama berakhir.
Prancis memakai bahasa, seni, mode, kuliner, sastra, filsafat, dan lembaga seperti Alliance Française. Mereka ingin tetap dilihat sebagai pusat budaya, pemikiran, dan gaya hidup dunia.
Jadi, pengaruh Prancis tidak hanya datang dari politik dan ekonomi, tetapi juga dari citra sebagai negara berbudaya tinggi.
Qatar memakai Al Jazeera, diplomasi mediasi, dan olahraga. Piala Dunia 2022 menjadi contoh besar bagaimana Qatar menggunakan event olahraga untuk memperkenalkan diri sebagai negara kecil yang modern, kaya, dan penting secara geopolitik.
Turki memakai drama televisi, sejarah Ottoman, budaya Islam-Turki, pariwisata, dan lembaga budaya. Drama Turki yang populer di banyak negara ikut memperkuat citra Turki sebagai negara yang punya sejarah besar, budaya kuat, dan posisi penting di dunia Muslim.
-----
Kesimpulannya, soft power bukan sekadar promosi budaya. Dalam politik internasional, soft power dipakai untuk membangun citra, memengaruhi opini publik, memperluas jaringan elite, menarik wisatawan dan investor, serta memperkuat posisi tawar negara.
Di abad ke-21, perebutan pengaruh antarnegara tidak hanya terjadi lewat militer, ekonomi, atau diplomasi resmi. Perebutan itu juga terjadi lewat film, musik, bahasa, media sosial, beasiswa, kampus, event olahraga, pusat budaya, dan narasi digital.
Dengan kata lain, soft power adalah cara negara membuat dunia berpikir: “Negara ini menarik, berpengaruh, dan layak diajak bekerja sama.”



