Perang AI - Byradian - Radian Wedagama
Terbaru
Loading...

Selasa, 17 Maret 2026

Perang AI

 



Duarr! 

Sebuah video yang beredar di media sosial sukses bikin saya terperanjat. 

Bayangkan saja, dalam video itu tampak ratusan rudal milik Iran menghujani kota Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Salah satunya menghantam Burj Khalifa, menara ikonik sekaligus yang tertinggi di dunia. 

Bergeser sedikit, video lain muncul di beranda. Kali ini menampilkan USS Abraham Lincoln dibom habis-habisan oleh rudal-rudal Iran. Kapal perang AS itu begitu hancur dengan ledakan di sana-sini, hingga akhirnya tenggelam di dasar Teluk Persia. 

Belum lagi ada video ledakan di Tehran yang sangat besar dengan awan seperti serangan nuklir, dan masih banyak lagi. 

Pagi itu saya merasa ngeri. Waduh, ternyata perang disana sudah begitu dahsyat sampai di luar akal sehat. Jika begini terus, konflik ini bisa berubah jadi Perang Dunia III. 

Namun, saya juga merasa aneh dengan video-video yang beredar. Terutama dari grafiknya yang kelihatan bombastis.

Akhirnya saya coba mencari tahu, dan menemukan jawabannya. 

Rupanya, semua video itu dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)!

Bayangkan, ketika dunia sedang memantau perkembangan perang di Timur Tengah, ada orang-orang yang memposting video AI untuk menyebarkan narasi tak benar. Gila. 

Atau mungkin inilah strategi perang masa kini. Video AI sengaja disebarkan untuk menunjukkan ketangguhan dan kekuatan pihak yang bertikai. Tak peduli benar atau tidak, yang penting propaganda tersampaikan. 

Situasi ini jelas berbahaya, sebab membuat batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi kabur. Kita tidak bisa membedakan informasi mana yang asli dan palsu, sebab video yang biasanya jadi cara utama verifikasi suatu kejadian bisa dimanipulasi sedemikian rupa. 

Inilah yang disebut "Perang AI". Perang di mana kecerdasan buatan memainkan peran penting bagi jalannya konflik.

Perang ini pun bisa dibilang jadi 'arena bermain' bagi AI. 

AS, misalnya, menggunakan AI untuk melacak keberadaan pesawat tempur Iran dan aset-aset strategis lain, juga menghantam target secara presisi. Begitu juga Israel yang memanfaatkan AI sebagai pemberi rekomendasi target mana yang layak untuk diserang. Dari pihak Iran sendiri belum ada informasi bagaimana cara mereka menggunakan AI. 

Di luar medan pertempuran, AI dipakai untuk membuat video dan narasi propaganda yang menyesatkan. Ironisnya, banyak yang tertipu dan menelan mentah-mentah konten AI itu. Akademisi dan pejabat negara ikut jadi korban.

Connie Rahakundini Bakrie, pengamat militer ternama Indonesia, mengunggah konten yang menyebut Israel mengancam Indonesia agar tidak ikut campur dalam masalah Iran. Postingan yang diunggah di Instagram itu viral dan tersebar kemana-mana.

Belakang, Connie menarik konten itu, dan mengaku salah karena percaya dengan hoax di media sosial.

Dina Sulaeman, pengamat Timur Tengah yang sering wara-wiri jadi narasumber di TV, juga bikin heboh karena memposting video kapal induk AS hancur diserang Iran. Padahal, video tersebut adalah cuplikan dari game militer populer, sehingga mudah dikenali oleh netizen.

Lalu bagaimana dengan tanggapan para pemimpin dan pembuat kebijakan?

Sejauh ini mereka tampaknya sadar bahaya konten AI dalam memicu eskalasi konflik. Bekerja sama dengan penyedia aplikasi, mereka mulai melakukan sensor besar-besaran. 

X (Twitter) telah memasang sistem yang mampu mendeteksi konten AI secara otomatis dan memberikan keterangan di bawah postingan. Sedangkan para pengguna memanfaatkan Grok, fitur chatbot AI yang terintegrasi dengan X, sebagai alat untuk verifikasi informasi. 

Meta, pemilik Facebook, mengandalkan laporan dari para pengguna untuk mendeteksi postingan yang mengandung hoax.

Namun, dengan jutaan postingan yang diunggah setiap harinya, menyingkirkan konten AI sesat di media sosial adalah tugas yang berat.






Share with your friends

Mau Pergi Kemana? Kok Buru-Buru Banget :)
Yuk Komen Disini Dulu
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done