Mantra Sakti ---- Prolog - Byradian - Radian Wedagama
Terbaru
Loading...

Sabtu, 26 September 2026

Mantra Sakti ---- Prolog

 

  




   Bukit orang mati

  Itulah arti nama Mohenjo-daro. Sebuah reruntuhan kota kuno yang terletak di lembah sungai Indus, wilayah yang disebut sebagai salah satu titik awal lahirnya peradaban umat manusia.

  Bagi para sejarawan dan ahli arkeologi, yang malang melintang dalam penelitian masa lampau, keberadaan tempat ini sangatlah misterius. 

  Mohenjo-daro diperkirakan muncul sekitar 4.600 tahun silam. Waktu yang sangat lama. Bila dibandingkan dengan kota pada zamannya, Mohenjo-daro dilengkapi dengan tata ruang serta teknologi yang sangat canggih. 

   Ia punya desain perkotaan yang begitu rumit. Kawasan pemukiman saling terhubung oleh jaringan jalan umum yang relatif sempit, namun bisa dilalui oleh kuda maupun kendaraan tradisional lain. 

  Setiap rumah telah dilengkapi oleh kamar mandi pribadi dan selokan yang mengarah ke saluran pembuangan utama kota. Untuk memenuhi kebutuhan air, mereka mengandalkan 700 sumur yang tersebar di seluruh penjuru kota.

  Masyarakat Mohenjo-daro juga pintar dalam memahami lingkungan. Sadar bahwa tempat tinggalnya berada di tepi sungai, mereka membangun drainase dan bendungan untuk melindungi diri dari banjir tahunan. 

  Iklim yang panas mendorong mereka untuk merancang ventilasi dan tembok-tembok tinggi, yang mampu menyalurkan angin serta memberi keteduhan bagi para penduduk. Bahkan para pengunjung masa kini yang datang kesana masih bisa merasakan hawa sejuk di tengah reruntuhan.

  Kendati dibekali segala keunggulan, Mohenjo-daro mulai mengalami kemunduran 600 tahun kemudian. Hal ini terlihat dari bukti-bukti fisik, yang menunjukkan adanya perpindahan penduduk secara perlahan. Tidak diketahui pasti apa alasannya, atau pergi ke mana para warga tersebut.

  Selama 3.600 tahun, Mohenjo-daro sama sekali tak berpenghuni, dan terkubur jauh di bawah tanah. Pada tahun 1922, kota ini kembali muncul ke permukaan setelah ditemukan oleh Rakhal Banerji, seorang arkeolog terkemuka asal India. 

  Sejak saat itu, Mohenjo-daro menarik minat para ilmuwan dan ahli sejarah dari seluruh dunia. Mereka berbondong-bondong datang untuk mengungkap misteri dari kota kuno yang luar biasa ini. Tak terkecuali seorang pria yang tampak sedang berjalan tergopoh-gopoh. Ia menghampiri kerumunan orang yang berkumpul di antara reruntuhan. 

  “Ada apa ini?” tanyanya.

  “Mengapa kalian berhenti bekerja?”

  Para warga lokal, yang juga menjadi pekerja galian situs bersejarah, saling tatap satu sama lain. Wajah mereka agak pucat dengan tubuh gemetar. Seolah-olah takut untuk mengungkapkan sesuatu. 

  Namun, ada salah satu dari mereka yang akhirnya maju untuk menjawab pertanyaan. Ia adalah seorang pemuda yang berumur 25 tahun. 

  “Maaf, tuan. Sepertinya kami tidak bisa lagi melanjutkan penggalian ini”

  Penjelasan itu membuat si pria kaget. Matanya berubah jadi tajam.

  “Kenapa?!”

  Pemuda itu menunjuk ke arah sebuah tanda warna merah, yang berlambang seperti tengkorak berbentuk aneh, dan sepasang tulang dalam posisi horizontal di belakangnya.

  “Iya, terus?”

  “Dengan segala hormat, tuan. Simbol merah pada dinding batu itu menggambarkan tengkorak Asura, musuh para dewa,” terang si pemuda penuh sopan santun.

  “Artinya, ruang bawah tanah yang kita bongkar ini adalah tempat untuk menyegel Asura. Mungkin saja mereka pernah menyerang kota ini, namun berhasil dikurung di dalam sini”

  “Penggalian ini, jika diteruskan, hanya akan mengundang kesialan dan bencana bagi kita semua. Dan….ughhh!”

  Bukkkkk!

  Sebuah tinju melayang tepat di wajah pemuda itu, hingga membuatnya terjerembab di tanah. Darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya. Ya, benar. Si pria menganiaya pemuda yang malang itu tanpa ampun. 

  “Rajesh!” teriak pekerja yang lain, memanggil nama si pemuda. Mereka segera menghampirinya untuk memberikan pertolongan pertama.

  “A-aku tidak apa-apa.” Rajesh berusaha menenangkan wajah-wajah khawatir di sekelilingnya.
  Pria itu menunjukkan tatapan jijik.

  “Idiot!” makinya. 

  “Memangnya kau pikir kau siapa, hah? Beraninya orang berpendidikan rendah menceramahi seorang ilmuwan. Sudah setinggi apa ilmu kau, hah?!”

  “Semua ucapanmu itu cuma omong kosong! Hanya gara-gara takhayul kalian berhenti bekerja? Konyol sekali. Bisa-bisanya kalian dibodohi mitos, dasar tolol!”

  Masih melontarkan ocehan kasarnya, si pria mencoba menerobos ke ruang bawah tanah. Namun ia tak kunjung masuk, karena tak ada pekerja yang menemaninya.

  “Woy, sedang apa kalian disana, hah? Ikuti aku sekarang!”

  Meski mendengar perintah, para pekerja itu tak bergeming. Sikap diam mereka jelas menunjukkan pemberontakan dan rasa muak atas perilaku tuan mereka yang semena-mena.

  “Brengsek! Kalian tidak akan lolos dari ini!” 

  Pria itu mengambil helm dan senter kepala sembari misuh-misuh, dan akhirnya pergi sendirian ke dalam tempat yang konon terlarang itu.

  “Sombong sekali dia!”

  “Kalau saja dia bukan antek-antek kesayangan para pejabat dan elit pemerintah, aku pasti sudah menghajarnya sampai binasa!”

  Suara-suara amarah dan ketidakpuasan mulai terdengar seiring tubuh pria itu masuk ke ruang bawah tanah.

  Profesor Karana Malartha. Demikian nama laki-laki berkacamata dengan rambut klimis itu. Ia merupakan arkeolog sekaligus dosen di Universitas Contralto. Kampus swasta tak terkenal di Amerika Latin.

  Malartha sangat benci dengan tempat kerjanya saat ini. Sebelumnya, ia merupakan ilmuwan asing yang mendapatkan posisi penting di Universitas Bali, satu dari sepuluh perguruan tinggi terbaik di dunia. 

  Ia pernah menjabat sebagai ketua prodi, dekan, kepala bagian kemahasiswaan, dan sering dipercaya untuk memimpin proyek-proyek ilmiah yang bergengsi.

  Namun, berbanding terbalik dengan pencapaian besarnya selama ini, Malartha kurang disukai oleh orang lain. Khususnya dari rekan-rekan dunia akademik dan riset ilmu pengetahuan. Ia dikenal sebagai sosok kelewat ambisius yang gila terhadap pujian dan kedudukan.

  Demi mengejar penghargaan, ia kerap memanipulasi data penelitian. Seolah-olah penemuan yang ia dapatkan sangat hebat. Padahal aslinya biasa saja atau tidak penting sama sekali.
 
  Selama tujuh tahun aksinya tidak ketahuan oleh siapapun. Ia terus mendapatkan dana riset hingga jutaan dolar lewat sponsor pemerintah dan yayasan publik.
 
  Akan tetapi, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Perilakunya terbongkar oleh kecerobohan asistennya, yang salah mengirim percakapan rahasia mereka ke orang lain. Yaitu grup chat rektorat universitas.
 
  Setelah dosanya tersebar luas, Malartha dan beberapa anggota timnya langsung diseret ke sidang kode etik. Hasilnya, ia dianggap telah melanggar prosedur ilmiah, sekaligus mencederai semangat ilmu pengetahuan.
 
  Lima tahun yang lalu, Malartha resmi dipecat secara tidak hormat. Para bawahan, yang merasa menderita saat bekerja dengannya, langsung bersuka cita. Mereka menganggap momen itu sebagai hadiah dari para dewa. Sebab, keputusan pemecatan itu keluar tepat pada Hari Saraswati  yang penuh berkah.
 
  “Sialan orang-orang bodoh itu!” umpat Malartha penuh dendam.

  Ia menggebuk dinding ruang bawah tanah yang ada di sebelahnya. Keras sekali pukulannya. Tindakan emosional itu rupanya berdampak serius.

  Brakkk Brakkk Brakkk Brakkk!

  Tanpa sangka, susunan batu yang membentuk dinding kuno itu langsung runtuh. Menghasilkan suara begitu keras serta debu yang pekat.
 
  Terkejut dengan hasil perbuatannya, Malartha sontak berusaha menyelamatkan diri.

  “Wuaaaaah!” jeritnya panik.
 
  Akan tetapi, sebelum ia sempat keluar dari ruang bawah tanah, kegaduhan itu sudah berakhir. Ternyata dibalik dinding yang telah berlubang tersebut, ada sebuah tangga yang menurun ke bawah. Ia tampak seperti jalan rahasia yang tak jelas ke mana arahnya.
 
 Malartha, dengan rasa ingin tahu yang tinggi, langsung mengambil kesempatan ini sebaik mungkin.

  Bwooooosh!

  Baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, semua obor yang terpasang di sisi tangga langsung menyala. Menerangi sepanjang jalan yang tadinya gelap gulita.
 
  “M-mustahil,” gumam Malartha tak percaya.

  Sistem pencahayaan yang dilihatnya ini sangat hebat. Padahal cuma berupa obor, tapi bisa menyala otomatis bak lampu listrik jaman modern. Bagaimana mungkin masyarakat kuno bisa menemukan teknologi serumit ini? Misterius sekali!

  Malartha melanjutkan perjalanan menyusuri anak tangga. Tempat ini terasa sepi dan begitu kosong. Tiap suara yang dihasilkan selalu bergema ke segala penjuru. Termasuk langkah kaki hingga tetesan air. Menambah kesan horor dan menyeramkan yang bikin merinding.
 
  Nyali Malartha perlahan mulai ciut. Memang itulah sifat aslinya. Penakut tapi bergaya sok otoriter. Walau begitu, ia tetap memaksakan diri untuk maju terus. Eksplorasi kali ini adalah kesempatan emas untuk mengembalikan harga dirinya yang selama ini “terinjak-injak”.

  Lima belas menit berlalu, tangga itu belum juga terlihat ujungnya. Jalur ini sungguh panjang tak terkira.
 
  “Sebenarnya ini tempat apa sih?” gumam Malartha keheranan.
 
  Pikirannya mulai teringat dengan cerita anak buahnya yang ia hajar tadi. Jangan-jangan, tempat ini memang area terlarang yang disegel oleh para dewa. Kalau benar, ia pasti akan dikutuk karena lancang menerobos kemari. Sama nasibnya dengan para arkeolog yang tewas terkena penyakit misterius setelah menggali makam raja-raja Mesir.

  “Ah, yang benar saja! Sadarlah. Kutukan itu tidak ada. Bohong!” Malartha menenangkan diri dengan mengambil kesimpulan logis.
 
  Sriiiiiinggg!

  Penelusuran yang melelahkan ini akhirnya menemui titik terang. Seberkas cahaya terlihat berkilauan di ujung jalan. Warnanya keemasan, dan memancarkan sinar berkilauan dari kejauhan.

  Tanpa pikir panjang, Malartha langsung bersemangat mengejarnya, karena ia yakin pasti ada benda berharga yang bisa didapatkan disana. 

  Dugaannya tepat! Cahaya itu muncul dari sebuah ruangan besar berbentuk lingkaran, yang sekilas mirip aula pertemuan. Di tengahnya berdiri tegak sebuah pilar raksasa yang dihiasi ukiran rumit. Tingginya sekitar lima atau enam meter, setara dengan rumah berlantai dua.
 
  “H-hebat!” batin Malartha, takjub melihat ada struktur sebesar ini di bawah tanah.
 
  Ia kemudian mengusap-usap permukaan pilar yang agak licin dengan tangan kosong. Pilar ini rupanya terbuat dari batu marmer yang dipoles mengkilap. Jelas bertolak belakang dengan reruntuhan Mohenjo-daro lain yang dibangun dari batuan lumpur.
 
  Perbedaan bahan itu menunjukkan bahwa pilar ini diperlakukan lebih istimewa. Terlebih, batu marmer sulit untuk diperoleh karena terbentuk dari proses metamorfosa batu gamping yang terjadi selama jutaan tahun. Sehingga hanya bisa ditemukan di gunung tertentu.
 
  “Tapi, kenapa harus diletakkan di bawah tanah begini? Untuk menjangkaunya saja harus lewat jalan rahasia dulu. Apakah benar masyarakat tahu mengenai keberadaan ruangan ini?” Malartha pun kian penasaran.

  Sriiiiing!

  Suara dengung kembali terdengar untuk kedua kalinya. Ia muncul bersamaan dengan pancaran sinar dari dalam pilar. Sinar tersebut terdiri atas empat warna berbeda. Yaitu merah, oranye, kuning, dan hijau. Keempat sinar itu memancar ke penjuru mata angin; timur, barat, utara, dan selatan.

  Malartha mendekati sumber sinar itu berasal. Ternyata di bagian tengah pilar terdapat lubang berukuran sedang, yang menjadi celah bagi sinar untuk memancar keluar. Jumlahnya juga ada empat; masing-masing menghadap ke satu mata angin. 

  Adanya lubang-lubang ini pun menguntungkan Malartha. Matanya bisa mengintip ke dalam pilar untuk mengetahui seperti apa isinya. Disana ada semacam batu…eh bukan. Lebih tepatnya batu kristal berwarna-warni. Benda inilah yang menghasilkan sinar aneh tersebut.
 
  Srak Srak Srak

  Malartha mencoba mengorek empat lubang itu dengan pisau lipat dari sakunya. Walau terbuat dari marmer, permukaan pilar cukup rapuh, bisa jadi karena faktor usia ribuan tahun. Cuma butuh sepuluh menit, ia sudah terbuka sangat lebar.

  Ilmuwan itu pun memasukkan tangannya ke dalam lubang. Jari-jarinya bergerak meliuk-liuk dengan gesit, sebelum akhirnya berhasil membawa bola kristal itu keluar.
 
  Wiiiiingg

  Malartha mengamatinya dengan seksama. Bila dilihat dari jarak dekat, bola kristal itu sebenarnya transparan seperti kaca. Yang bikin berwarna adalah kepulan asap yang terus berputar dan terperangkap di bagian dalamnya. Asap itu pula yang diduga mengeluarkan suara melengking dari sana.

  “Hmmm, benda apaan sih ini?”

  Malartha membolak-balik bola kristal sembari memegangi dagunya. Lagi-lagi ia dibuat bingung saat melihat hasil temuannya.  Sebenarnya cara yang terbukti paling efektif untuk mendapatkan informasi tentang benda kuno adalah lewat peninggalan tertulis.

  Para arkeolog bisa mengetahui siapa pendiri Candi Borobudur dari tulisan di Prasasti Tri Tepusan. Sementara penjelajah Eropa mampu mengungkap sejarah Mesir Kuno dengan menafsirkan huruf hiroglif yang tercetak di dinding piramida.
 
  Masalahnya, Mohenjo-daro tidak punya teks semacam itu. Melainkan cuma stempel berlambang binatang, pepohonan, dan ikan yang sampai sekarang belum mampu diterjemahkan.
 
  “Huh? H-hei, tunggu sebentar”

  Kepalanya sedang menoleh ke sebelah kanan ketika Malartha melihat ada sesuatu yang terpasang di lantai pilar. Setelah dicek, ternyata merupakan plakat batu berlapiskan perak.
 
  Di atasnya terukir simbol sederhana yang menampilkan wujud manusia. Tubuhnya tampak sedang melayang di udara dengan kedua tangan menggenggam benda mirip kilatan petir. Sedangkan di bagian kiri plakat juga ada simbol makhluk menyerupai manusia, namun memiliki tanduk kepala dan berkuku tajam.
 
  Bila dilihat secara keseluruhan, manusia dan makhluk bertanduk itu saling berhadapan, seolah dalam posisi bertarung. Yang mengherankan lagi, si makhluk bertanduk digambarkan berada di tengah lingkaran besar, dengan wajah kalut bagaikan orang yang terjebak.
  
  Jujur, semakin lama teka-teki ini kian memusingkan.

  “Lho? Jangan-jangan.....”

  Namun lain halnya dengan Malartha. Matanya terbuka lebar kala menganalisa plakat itu.  Ekspresinya yang berubah jadi cerah itu menandakan bahwa ia berhasil memecahkan misteri benda kuno itu.   Ia bolak-balik mengamati satu persatu simbol itu. Sesekali ia mengangguk, berdehem, dan menyentuh plakat untuk meyakinkan diri. Aksinya kemudian berakhir dengan tawa-tawa kecil.

  “Fufufufu”

  “Hehehehe”

  Lambat laun, senyum licik mulai mengembang di wajahnya yang keriput. Entah apa yang ia pikirkan di dalam kepalanya. Yang jelas, ia pasti sedang merencanakan sesuatu dengan bola kristal itu.


*****

   “Huahahahaha!”

  Suara gelak tawa dan alunan musik bergema menyelimuti seisi ballroom. Para pengunjung sibuk berpesta pora sembari disuguhi hidangan mewah buatan para chef bintang lima. Mereka semua merupakan penumpang kapal pesiar Aurum Latro yang saat ini sedang berlayar melintasi Polinesia, sebuah kepulauan di Samudera Pasifik.

  Kapal pesiar ini disebut sebagai yang terbesar dan termewah di kelasnya. Ia memiliki tinggi 75 meter, setara dengan bangunan 15 lantai. Fasilitasnya tak main-main. Ada kamar hotel, ruang dansa atau ballroom, kolam renang, gym, bioskop, dan lounge.
 
  Berkat segala keunggulan yang ditawarkan, setiap orang yang naik Aurum Latro pasti merasa betah dan nggak mau lagi pulang ke rumah. Tak heran, harga satu tiketnya mencapai 5.000 kana. Setara dua kali gaji bulanan hanya untuk perjalanan selama seminggu.
 
  Saat ini dunia memasuki akhir bulan Desember. Musim dingin yang disertai hujan salju nan lebat telah tiba. Untuk menghangatkan diri, masyarakat dari Eropa dan Amerika Utara ramai-ramai pergi berlibur ke daerah tropis seperti Polinesia, yang jadi salah satu destinasi wisata tropis unggulan.
 
  Makanya, tiket perjalanan Aurum Latro langsung ludes dalam waktu lima hari setelah diborong oleh orang-orang kaya dan warga kelas atas lainnya.
 
  Namun, tidak semua penumpang disana mendapatkan harta dengan cara baik-baik. Beberapa kali pejabat korup, anak-anak diktator, hingga bos-bos gangster terlihat berseliweran di lobi kapal.
 
  Mereka dan anak buahnya masuk ke berbagai tempat untuk menjajal setiap fasilitas. Ada yang datang ke kasino untuk berjudi, belanja barang branded di butik dengan duit haram, atau bersantai di lounge seraya menikmati keindahan laut.
 
  Seorang pria berkepala plontos, yang mengenakan setelanun putih dan kalung rantai, memilih opsi yang terakhir. Baginya, judi dan shopping sangat tidak bijak. Seharusnya di tengah kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu, manusia menjaga uang mereka untuk mempersiapkan masa depan. Bukan menghamburkannya untuk foya-foya atau kesenangan sesaat. 

  Pemikiran yang sangat mulia, bukan?

  Sayangnya, prinsip pria ini justru sangat berlawanan dengan aktivitasnya. Ia adalah Alfonso Contralto, ayah dua anak sekaligus bos grup mafia Il Contralto yang jadi momok di dunia hitam.
 
  Kelompok ini menjalankan bisnis yang semuanya ilegal. Mereka bertanggung jawab atas 90% peredaran obat-obatan terlarang di belahan dunia barat. Produk narkoba unggulan mereka, Xylazine atau Tranq, bahkan menyebabkan jutaan pemakai di Amerika berperilaku seperti ‘zombie’. Berkeliaran tanpa arah dengan kulit membusuk, lalu berbuat kriminal di jalanan.

  Kewalahan dengan wabah ini, pemerintah Amerika Serikat (AS) pun menyatakan ‘perang’ melawan Tranq. Contralto menjadi incaran DEA—badan anti narkotika AS—sebagai musuh nomor satu yang harus segera ditangkap. Namun, berkat lobi-lobi politik yang lihai, ia belum tersentuh hukum sama sekali.

  Tak cuma narkoba, Contralto juga tertarik dengan peninggalan sejarah. Ia mengoleksi artefak kuno bernilai tinggi, yang didapatkan dari cara baik maupun jahat. Misalnya, ia pernah membobol 20 museum nasional di dunia dan mencuri koleksi penting di dalamnya tanpa ketahuan.

  Benda-benda itu disimpan di ruang rahasia di Universitas Contralto, perguruan tinggi yang didirikan sebagai tempat pencucian uang hasil bisnis haram mereka. Jika situasi aman, mereka akan menjualnya di pasar gelap dengan harga fantastis.

  Hobi itu pula yang membuat Contralto menanti seseorang di lounge kapal sembari menghisap cerutu Kuba kesayangannya.

  “Meno male! Lihat siapa yang sudah datang,” sambut Contralto, riang melihat sosok yang ia tunggu telah tiba di hadapannya.
 
  Ternyata orang yang dimaksud adalah Malartha.  Ia datang dengan membawa tas jinjing warna silver yang terbuat dari aluminium. Ukurannya besar, dan sepertinya lumayan berat.

  Baru saja risetnya tuntas di Mohenjo-daro, ilmuwan itu langsung dipanggil ke Azores untuk menemui bosnya. Ia sempat menginap selama dua hari di hotel, sebelum naik ke Aurum Latro begitu kapal pesiar ini transit di Papeete, ibukota kepulauan itu.
 
  “Jadi, apa saja yang sudah kau dapatkan di kota tua itu?” tanya Contralto. Tangannya sibuk mengaduk cappuccino yang disediakan anak buahnya.
 
  Malartha, yang duduk berhadapan dalam satu meja, memutar kunci gembok tas aluminium yang ia bawa. Ia kemudian membukanya, dan mengeluarkan tiga bola kristal. Masing-masing berwarna oranye, kuning, dan hijau.
 
  “Benda inilah yang kutemukan di antara reruntuhan Mohenjo-daro,” terangnya. 

  Contralto mengambil salah satu bola kristal dari atas meja. Ia mengamatinya dari jarak dekat, langsung di depan mata.
 
  “Hooh, rupanya bola kristal kuno yang berwarna-warni.” Bos mafia itu manggut-manggut.

  “Lho, kok ada asap yang berputar-putar di dalamnya? Isinya apa nih?”

  “Roh jahat.”

  Contralto sontak mengernyitkan dahi.

  “Hei, jangan bercanda dong.”

  “Aku serius,” balas Malartha menahan senyum.

  “Ah, tidak mungkin. Ini sangat tak masuk akal. Nonsense!” Contralto terus menggeleng tak percaya.

  “Hohoho. Percaya atau tidak, setidaknya itu yang dikatakan oleh tulisan di reruntuhan”

  Malartha menyerahkan selembar foto, yang menampilkan gambar plakat berisi simbol yang ia temukan disana.
 
  “Coba kau lihat gambar plakat ini. Apa saja yang bisa kau pahami dari simbol-simbol di dalamnya?”
 
  Contralto pun menajamkan penglihatan.

  “Hmmm, simbol ya? Disini ada sosok manusia yang memegang petir, umm, makhluk bertanduk di tengah lingkaran. Terus…”

  Mata si bos mafia terbelalak saat mulai menyadari pesan yang disampaikan lewat simbol-simbol itu.

  “Plakat ini....menceritakan pertarungan antara dewa dan monster!” teriaknya.

  “Lebih tepatnya, pertarungan antara Dewa Indra dan roh jahat.” terang Malartha membenarkan.
 
 “Aku sendiri tak tahu bagaimana persisnya. Namun, menurut analisaku, kira-kira begini jalan ceritanya”
 
  “Gerombolan roh jahat, entah dari mana asalnya, pernah menyerang Mohenjo-daro ribuan tahun yang lalu. Serangan itu menimbulkan banyak sekali korban tewas dan luka-luka, sebab manusia biasa bukanlah tandingan para roh jahat. Kekuatan di antara keduanya tidak seimbang”

  “Para penduduk yang ketakutan dan putus asa pun meminta bantuan Dewa Indra. Penderitaan yang mereka alami membuat sang dewa sedih sekaligus murka. Ia memutuskan untuk turun dari Kahyangan dan langsung menghadapi seluruh roh jahat”

  “Lalu?” Contralto mulai tertarik dengan kisah ini.

  “Pertarungan antara keduanya pun berlangsung sengit. Masing-masing kubu pantang mundur mengerahkan seluruh kemampuan. Berbekal kekuatan petir yang dimiliki, juga sifat-sifat dewata, Dewa Indra pun berhasil menaklukkan musuh”

  “Seperti yang bisa dilihat di plakat ini, para roh jahat yang sudah kalah langsung dikurung di dalam ‘penjara’ berbentuk lingkaran. Dan aku yakin lingkaran itu adalah bola kristal ini”

  Malartha mengakhiri cerita dengan menunjuk tiga benda berkilauan yang diletakkan rapi di atas meja. 


*****
  
  “Tunggu dulu. Jangan bilang kau percaya dengan dongeng semacam itu.” Contralto menatap arkeolog itu dengan curiga.

   Malartha tertawa.

  “Tentu saja tidak,” jawabnya tergelak.

  “Aku adalah seorang ilmuwan. Aku tak mungkin mempercayai sesuatu tanpa bukti yang kuat. Namun disisi lain, aku yakin kisah itu akan mendongkrak nilai jual bola kristal di pasar gelap”

  “Coba bayangkan. Jika kita mengungkit tentang roh jahat yang terperangkap di dalam bola kristal, apa yang akan dilakukan pembeli? Mereka pasti akan menawarnya dengan harga tinggi. Mau kita pasang harga satu miliar kana pun bakalan laris”

  “Masa sih? Nanti mereka malah menuduh bola kristal ini barang palsu.” Bos mafia itu tampak bimbang.

  “Kolektor benda bersejarah itu bukan orang bodoh. Hanya dari sentuhan atau sekali lihat, mereka mampu membedakan barang asli dan palsu dengan mudah,” kata Malartha berusaha meyakinkan.

  Contralto mengangkat bola kristal itu lagi. Kali ini, ia memandanginya dengan optimis dan penuh semangat.

  “Kau benar! Benda ini memang luar biasa. Meraviglioso!” pujinya gembira.
 
  “Hahahahaha!”

  Seisi ruangan itu mendadak gaduh oleh euforia dan suara-suara menyenangkan lainnya. Contralto mengangkat segelas sampanye ke atas, dan bersulang bersama anggota gangster untuk merayakan pencapaian mereka. Namun, Malartha tidak ingin terlalu hanyut dalam selebrasi. Sebab masih ada hal lain yang harus ia selesaikan. 

   “Aku sudah memenuhi semua keinginanmu, Tuan Contralto. Sekarang, mari kita bahas perjanjian kita,” ucap Malartha.

   Bos mafia itu melirik wajah sang ilmuwan. Tawa di wajahnya perlahan menghilang, berganti dengan senyum yang terkesan misterius.

   “Ah, maksudmu perjanjian bagi hasil itu ya?” tanyanya.

    Malartha mengangguk.

     “Jadi, berapa banyak yang kau inginkan?”

   “Selama satu tahun terakhir, aku sudah memberimu lima macam artefak kuno. Bila dijumlahkan, harga semuanya sekitar 500 juta kana,” hitung Malartha.
 
  “Menurut perjanjian, aku berhak atas komisi sebesar 40 persen. Artinya, total uang yang harus kuterima adalah 200 juta kana” 

    Prok prok prok prok

    Contralto tepuk tangan mendengar pemaparan yang sangat detail itu.

 “Seperti yang diharapkan dari mantan arkeolog nomor satu di Asia. Kau benar-benar memperhitungkan semuanya.” Ia kembali memberikan pujian.

  “Baiklah. Kebetulan sekali aku sedang membawa banyak uang di kamarku. Aldo, Silvio, tolong bantu teman kita ini untuk mengambil hadiahnya”

  “Siap!” 

  Kedua gangster segera menurut begitu diberi perintah. Akan tetapi....

  Klak klak!

  Alih-alih mengantarkan ke kamar yang dimaksud, mereka justru mengeluarkan pistol dan menodongkannya tepat ke kepala Malartha.
 
  “E-eh?!” Sang ilmuwan terkejut bukan kepalang melihat ancaman yang datang tak terduga.
 
  “A..apa-apaan ini?!”

  Ia berusaha meminta penjelasan Contralto atas tindakan kurang ajar anak buahnya. Namun, si bos mafia tak bergeming. Dengan santainya ia menyalakan korek dan membakar cerutu.

  “Kau tahu Malartha? Sebetulnya kau ini ilmuwan yang luar biasa.” Kata demi kata mulai meluncur lagi dari mulut Contralto.

  “Sayang sekali, kau terlalu serakah dan rakus”

  “Saking gila harta, kau rela bekerja sama dengan mafia, dan meminta keuntungan dari hasil penyelundupan ilegal. Sungguh menyedihkan”

  “T-tapi, kau sendiri yang pertama kali menawarkan bagi hasil kepadaku,” bela Malartha.

  “Pffft!”

  “Buahahahaha!"

  Para gangster itu terbahak-bahak menertawakan ‘kebodohan’ si ilmuwan.

  “Kau benar-benar naif ya. Kami ini mafia. Buat kami, janji harus ditepati kalo membawa keuntungan. Kalau tidak, ya untuk apa,” ucap Contralto bernada sinis.
 
  “Coba kau lihat baik-baik lambang organisasi kami. Di bawahnya ada semboyan Proditores Ubique Sunt—pengkhianat ada dimana-mana. Itulah motto hidup kami. Dengan berkhianat atau dikhianati, kami akan terus kaya dari bisnis ilegal. Hahahaha!”

  Deg!

   Nafas Malartha tercekat hingga tak mampu berkata-kata. Ia benar-benar sudah dipecundangi oleh pria botak yang ia bantu selama ini. Rasanya sakit sekali. Semua usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan seolah menguap begitu saja.
 
  Namun, Malartha sebenarnya sudah mengantisipasi hal ini. Ia sering mendengar desas-desus mengenai tingkah laku Contralto yang gemar ingkar janji dan melanggar sumpah sesuka hati. Sudah banyak rekan sejawat yang menghilang setelah terlibat dalam bisnis ilegal ini, dan sekarang ia jadi tahu alasannya.
 
  Dalam posisi terpojok, Malartha merasa inilah saatnya menjalankan rencana darurat yang telah ia siapkan.
 
   Kling kling kling

  Tanpa diketahui orang-orang di sekitar, ia masih menyimpan salah satu bola kristal di dalam tas silvernya. Yakni yang berwarna merah. Ketika kondisi lounge mulai berbahaya, bola kristal itu mengeluarkan suara denting yang hanya bisa didengar oleh Malartha seorang.

  “Ng? Kelihatannya wajahmu tenang sekali ya. Padahal sebentar lagi kau bakal mati lho,” kata Contralto mengintimidasi.
 
  Malartha pun mendengus pelan. Ia memilih cara nekat meski ketakutan setengah mati.

  “Apa kau benar-benar yakin ingin membunuhku?”

  “Huh?”

  “Jika aku mati, kau mungkin tak akan mendapatkan barang lain yang belum kutunjukkan. Kau pasti akan menyesal nanti karena….”

   Contralto terdiam sejenak.

   “H-hei, maksudmu…”

   Bos mafia itu tiba-tiba jadi salah tingkah setelah mendengarnya. Malartha terus menggertak dengan tatapan sok meremehkan. Anggota mafia yang lain pun geram melihatnya, dan ingin menghabisi nyawa si ilmuwan langsung di tempat. Namun, Contralto menahan mereka.

   “Tunggu dulu! Belum saatnya…” tegasnya, meminta anak buahnya agar menurunkan senjata.

   “Wah wah, sepertinya kau mulai tertarik ya,” ucap Malartha setengah menyindir.

   “Cukup basa-basinya! Jadi benda apa yang masih kau miliki?”
 
   Contralto tampak gelisah dan tidak sabaran. Hal ini cukup mengagetkan Malartha. Ia tak habis pikir bahwa gertakan itu ampuh mempermainkan emosinya. Ciri-ciri orang tamak memang begitu. Dimana ada keuntungan, disitu ia bakal sikat habis!

   “Kau lihat tas yang kubawa ini? Di dalam sini, aku menyimpan bola kristal lain yang belum kau lihat”

   “Eh? Jadi bola kristal itu bukan ada tiga?”

   “Tidak, melainkan empat”

  Contralto terhenyak. Astaga! Hampir saja ia melewatkan kesempatan emas untuk mendulang profit lebih banyak lagi. 

  “P-perlihatkan. Perlihatkan sekarang!” serunya.
 
  “Okelah kalau itu maumu.”

  Malartha memutar lima nomor kombinasi pada kunci gembok. Hanya perlu sekali tekan, tas itu langsung terbuka lebar. Bola kristal merah pun dikeluarkan dari dalam, lalu diangkat ke atas supaya bisa dilihat semua orang di lounge.

    Sriiiing

   Benda satu itu jauh lebih berkilau dibandingkan tiga bola kristal lainnya. Meski agak silau di mata, nilai estetika di dalamnya tidak berkurang. Contralto tak berkedip saat menatapnya. Otaknya penuh dengan berapa besar profit yang bisa diraih bila ia menjualnya.

  Akan tetapi, keindahan itu tak berlangsung lama. Sebab beberapa detik kemudian, Malartha membanting bola kristal itu ke lantai sekuat tenaga.

    Pranggg!!

   Benda kuno itu seketika hancur berkeping-keping menjadi butiran kaca. Tak mengira bakal jadi begini, Contralto sontak bangkit dari tempat duduk karena terperanjat.
 
   “Bastardo! Apa yang kau lakukan?!” umpatnya murka. 
 
  Sementara itu, gangster yang lain kembali mengarahkan moncong senjata ke arah Malartha. Bwoooosh! Belum sempat mengambil tindakan apapun, asap merah yang tumpah ruah dari bola kristal itu meledak, dan menyesaki seisi ruangan.

    Ohok! Ohok! Ohok!

  Semua orang yang ada di dalam mengalami sesak nafas dan terbatuk-batuk akibat kebanyakan menghirup asap. Beberapa di antaranya berguling-guling di lantai seraya memegangi dada dan leher mereka. 

   Merasa tidak tahan lagi, salah satu gangster membuka pintu lounge untuk mencari udara segar.

   Namun, cara ini justru menambah masalah baru. Angin laut yang berhembus kencang mempermudah asap itu untuk menyebar ke segala penjuru kapal. Alhasil, penumpang kapal lain yang tak berdosa ikut terkena dampaknya. 

   
*****

     Uhk! Uhk! Uhk!
  
   Para penonton yang sedang menikmati pertunjukan di ballroom pun bertumbangan dari tempat duduk. Anak-anak hingga orang dewasa meringis kesakitan menahan nyeri di dada dan kepala. Ruang kendali kapal juga tak kalah genting, sebab sang nakhoda dan beberapa awak kapal jatuh tak sadarkan diri dengan mulut berbusa.
 
   Wiu wiu wiu wiu wiu

  Sirine darurat mulai meraung-raung. Para tenaga medis mulai menyebar ke berbagai tempat, dan bergegas memberikan bala bantuan. Tim tersebut dipimpin oleh seorang dokter senior yang selama ini praktik di klinik kapal. Dengan mengenakan masker, ia turun langsung ke lapangan.

  “Ada apa ini?” tanya sang dokter kepada anak buahnya. Ia terperangah melihat pemandangan kapal yang mendadak kacau balau.

  “Saya tidak tahu pasti, dok. Tetapi barusan ada asap tebal aneh yang membuat para penumpang sesak nafas begini,” jawab seorang perawat.

  “Apakah sudah ketahuan dari mana sumbernya?”

  “Tim keamanan dan teknisi sudah pergi mengecek ruang mesin dan saluran bahan bakar. Namun mereka belum menemukan ada yang aneh disana”

  Ketika para petugas berjibaku memberikan pertolongan, salah satu penumpang yang sedang dirawat tiba-tiba berdiri. Bola matanya merah menyala-nyala. Nafasnya mengalir tak karuan disertai cucuran keringat yang deras di wajah.

  Salah seorang perawat, yang sedang menyiapkan obat, terkejut melihat pasiennya mendadak bangun.
 
  “Tuan?” panggilnya untuk memastikan.

  “Apakah anda baik-baik saja?”

   Pertanyaan itu tidak dijawab dengan perkataan. Melainkan oleh satu serangan mematikan, yang tidak dapat dicegah oleh sang perawat.

   Brakkkk!

  Tenaga medis malang itu seketika ambruk tak berdaya. Seolah belum cukup, tubuhnya dibanting berulang kali ke lantai hingga mengalami patah tulang di sekujur tubuh.

  Aksi tak disangka-sangka itu memicu kepanikan. Petugas keamanan dan awak kapal berusaha menghentikan kekejian tersebut dengan sekuat tenaga.

   “Hei! Hentikan!” seru mereka.

  Beramai-ramai mereka menahan tubuh pria paruh baya itu, serta mencoba meredakan amukannya. Usaha tersebut tidak mulus sama sekali, sebab pasien yang lain juga ikut mengamuk. Ciri-ciri fisiknya pun tak jauh beda, dan tak kalah seram. 
 
   Groaaaarrgh!

  Dalam hitungan menit, pasien yang menggila melonjak menjadi ratusan orang. Mereka mulai menghancurkan setiap barang dan melukai orang lain secara membabi buta. Petugas medis dan keamanan tak luput dari sasaran.
 
   “B-bagaimana ini dok?” 

   “A-apa yang harus kita lakukan?!”

  Para petugas yang kebingungan lantas bertanya kepada atasannya. Sang dokter menyadari bahwa mereka kalah jumlah dengan “penumpang gila” itu. Terlebih mereka juga tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk berhadapan langsung. Tak ada pilihan lain.
 
  “Untuk sementara, ayo kita mundur. Evakuasi diri kita dan pasien yang masih normal dan waras,” perintahnya.
  
   “Baik!”

   Dipandu oleh tenaga medis, para pasien bergerak menuju pintu keluar. Disaat yang sama, petugas keamanan memberikan perlindungan dengan menembak kawanan penumpang gila menggunakan gas bius dan peluru karet. Senjata tajam memang tidak digunakan demi mencegah jatuhnya korban jiwa.

  Rupanya mereka salah perhitungan. Setibanya di lorong yang mengarah ke bangsal perawatan, penumpang gila dari ruangan lain telah menunggu disana, dan langsung menyerang!

    Kyaaaaaa!

    Arggghhhh!

  Pemandangan selanjutnya sungguh menyayat hati. Tubuh para pasien dan petugas yang menjaga mereka dibunuh tanpa belas kasihan. Tak peduli korbannya sudah meminta ampun, para penumpang gila terus merangsek untuk menghabisi siapapun yang ditemuinya.
 
    Dalam sekejap, kapal pesiar mewah favorit pelancong itu berubah menjadi medan pembantaian.
 
  Darah bertumpahan dimana-mana, mengenai tembok, atap, jendela, dan sebagainya. Seolah tiap barang disana menjadi saksi bisu nasib tragis para korban. Semua orang yang berada di atas kapal tewas mengenaskan. Tak ada yang selamat.

  Peristiwa memilukan ini kemudian dikenal sebagai “Tragedi Kapal Pesiar Berdarah”. Insiden yang kelak memicu bencana paling mematikan dalam sejarah umat manusia.


    - bersambung -


------

Halo, guys!

🔥 Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?

Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨

Bundle terbaru sudah tersedia di Karyakarsa

⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutkan ceritanya
🔥 Temukan apa yang terjadi setelah bagian terakhir!

Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇

Karyakarsa:  https://bit.ly/MSKaKa


Share with your friends

Mau Pergi Kemana? Kok Buru-Buru Banget :)
Yuk Komen Disini Dulu
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done