Mantra Sakti ― Bagian 8: Menata Kembali
“Tran Hoa, usia 14 tahun. Lahir tanggal 23 Maret. Betul?” tanya pemilik restoran mengenai biodataku.
“Iya betul,” jawabku dengan mantap.
Pria yang kira-kira berusia 40 tahun itu mengecek satu persatu kertas dokumen yang kubawa. Ia membacanya dengan teliti dan seksama.
Entah hanya perasaanku saja, sepertinya ia tampak berbunga-bunga setelah mengamati dokumen itu.
Apakah ini pertanda baik atau bukan, aku tidak tahu. Aku masih menunggu responnya dengan jantung berdebar.
“Jujur, aku ingin sekali kau bergabung disini.”
Sembari menaruh map lamaranku di meja kerja, ia menerangkan.
“Kau punya nilai akademik yang baik. Ditambah lagi, punya pengalaman melayani pelanggan restoran di usia semuda ini”
“Selama mengelola tempat ini, aku belum pernah melihat kandidat yang sebaik dirimu”
Pemilik restoran memujiku dengan penuh semangat. Mataku berbinar saat mendengarkannya. Rasanya tidak sabar untuk segera bergabung disini.
“Tapi, sayangnya kami tetap tidak bisa menerimamu”
Suasana mendadak hening.
“E..eh..?”
Kata-kata yang meluncur dengan nada berat itu membuat nafasku tercekat. Padahal, aku sudah mengantisipasi jika tidak diterima. Namun saat mendengarnya, mentalku tetap saja jatuh.
Mungkin karena pujian setinggi langit itu membuatku terbang bebas, sebelum akhirnya membantingku ke daratan.
“K..kenapa?” tanyaku dengan terbata-bata.
Pemilik restoran menghela nafas sebanyak tiga kali, kepalanya menoleh kanan kiri. Wajahnya terlihat sendu. Tampaknya ia memang serius untuk merekrutku. Namun, ada sesuatu yang menghalangi keinginannya.
“Masalahnya ada di peraturan hukum.” Setelah diam beberapa saat, ia pun mulai berbicara.
“Menurut undang-undang, dilarang keras untuk merekrut anak dibawah usia 15 tahun sebagai pekerja”
“Kau tahu kan, pemerintah kita sangat keras. Siapa pun yang melanggar aturan pasti bakal kena hukuman berat. Aku tidak mau mencari masalah, apalagi di masa sulit seperti sekarang”
Mendengar penjelasannya, aku mengangguk pelan. Karena faktanya memang seperti itu. Negara ini memang tak kenal ampun dengan pelanggar hukum. Sekali berbuat kejahatan, penjara sudah pasti menanti. Dan peluang untuk bebas dari jeruji besi sangat minim.
Yah, memang terkesan keras, tapi ada sisi positifnya. Tingkat kejahatan disini sangat rendah. Kami hidup dengan aman sentosa, hingga wabah AVIDS dan Asurian menyerang.
“Tapi, pemerintah juga salah sih. Di tengah pandemi seperti ini, banyak anak yang kehilangan orangtua mereka. Harusnya longgarkan saja peraturan ini dalam kondisi darurat,” keluh pemilik restoran.
Ekspresinya terlihat sangat kecewa. Namun, aku tidak ingin membenarkan perkataan itu, atau membuat percakapan jadi panjang.
Setelah berbincang sedikit, aku pun berpamitan dan pergi.
Waktu telah menunjukkan pukul 14:30 sore. Bus selanjutnya baru tiba setengah jam lagi. Artinya, aku harus menunggu cukup lama hingga bisa pulang ke rumah. Untuk mengisi waktu, aku memilih untuk duduk di halte bus sembari merenungkan nasib hidupku.
Setahun berlalu sejak aku kehilangan orangtuaku. Terkapar setelah jatuh dari atas bukit, aku berhasil diselamatkan oleh regu militer. Mereka kebetulan sedang berpatroli di area itu dengan helikopter, ketika melihat sosok tubuh manusia tergeletak di atas batuan tebing.
“Kapten, lihat itu!” seru salah satu prajurit berpangkat sersan. Tangannya menunjuk ke arah kaki bukit.
- bersambung -
------
Halo, guys!
🔥 Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?
Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨
Bundle terbaru sudah tersedia di Karyakarsa
⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutkan ceritanya
🔥 Temukan apa yang terjadi setelah bagian terakhir!
Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇
Karyakarsa: https://bit.ly/MSKaKa

