Mantra Sakti ― Bagian 2: Rasa Sesal - Byradian - Radian Wedagama
Terbaru
Loading...

Selasa, 29 September 2026

Mantra Sakti ― Bagian 2: Rasa Sesal






                                                             

    

    "Aku tak mau bertemu kalian lagi!"

    "Pergi sana!"

    Beberapa saat setelah kata-kata itu keluar dari mulutku, suasana berubah menjadi hening.

    Sayup-sayup, terdengar suara isak tangis Ibu dari balik pintu, sementara Ayah berusaha menenangkannya.

    "Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah berkata kasar"

    "Aku tidak benar-benar membenci kalian"

    "Hanya saja, aku sedang marah saat ini"

    "Tolong jangan terlalu dipikirkan perkataanku"

     "Aku benar-benar minta maaf"

     Di lubuk hati terdalam, ingin rasanya berkata seperti itu, dan memeluk orangtuaku.

     Namun, ego dan rasa gengsiku lebih tinggi dari itu.

     Aku pun memilih pura-pura tidak peduli, dan bersiap memasang wajah garang seandainya mereka ingin membuka pintu kamarku dengan kunci cadangan.

    Mungkinkah ini yang disebut "penyakit" anak manja, yang setiap permintaan nya selalu dituruti? 

    Ketika hal buruk terjadi, bisanya cuma marah-marah dan menyalahkan orangtua.

    Setelah beberapa lama, ternyata Ayah dan Ibu menyerah, dan memilih untuk menunggu hingga aku tenang kembali.

   Setelah suara mereka tak terdengar lagi, aku lanjut berleha-leha di dalam kamar. Mulai dari menonton anime di smartphone, hingga membaca komik sambil rebahan.

   Beraktivitas terus menerus di dalam kamar rupanya cukup melelahkan. Tanpa sadar aku pun jadi mengantuk, dan akhirnya tertidur pulas.

    Menit demi menit pun terlewati. Tanpa sadar, aku telah terpejam selama tiga jam. Waktu memang cepat berlalu saat kita tidur.

    Tiba-tiba....

    "Hoa, buka pintunya cepat!"

     Suara Ayah, yang menggedor pintu kamar sambil berteriak, sontak membangunkanku. Gedoran itu sangat keras dan bertubi-tubi.

     Akibatnya, pintu kamarku terus bergoyang seolah-olah mau roboh.

     Sementara itu, teriakan Ayah semakin lama kian kencang.

     "Hoa, ayo cepat keluar!"

     "Hoa!"

     "Hoa!!"

     Aku, yang masih setengah mengantuk, heran dengan sikap keras Ayah itu.

     Benar-benar tidak biasa. Ayahku adalah sosok yang tenang dan ramah. Emosinya tidak pernah meledak-ledak, apalagi sampai merusak barang dan memukuli pintu.

    Namun disisi lain, aku bisa merasakan adanya kepanikan di dalam setiap teriakannya.

    Tapi kenapa? Aku kan cuma "ngambek" biasa. Kalau emosiku sudah reda, aku pasti keluar kamar, dan hubungan kami akan kembali seperti semula.

    Brakkkkkk!!

    Ketika aku masih bertanya-tanya, tiba-tiba terdengar dentuman keras dari balik pintu, diikuti oleh suara Ayah yang menjerit kesakitan.

    Saat itulah baru aku sadar, bahwa kondisi di luar sana sangat mencekam....


   - bersambung -


------

Halo, guys!

🔥 Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?

Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨

Bundle terbaru sudah tersedia di Karyakarsa

⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutkan ceritanya
🔥 Temukan apa yang terjadi setelah bagian terakhir!

Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇

Karyakarsa:  https://bit.ly/MSKaKa

Share with your friends

Mau Pergi Kemana? Kok Buru-Buru Banget :)
Yuk Komen Disini Dulu
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done