Setelah sekian lama, aku baru sadar ternyata hidupku selama ini menyenangkan, meskipun punya banyak keterbatasan. Andai saja aku bersyukur ketika itu. Mungkin jalan hidupku akan jauh berbeda.
Ah, ingin rasanya pergi ke masa lalu. Penyesalan memang selalu datang terlambat, dan semua yang hilang tidak akan pernah kembali.
Aku lahir di keluarga yang sederhana. Ayahku adalah pemilik Panduranga, kedai mie kecil di Phan Rang, sebuah kota yang menghadap Laut Cina Selatan. Ibuku juga bekerja disana sebagai pelayan sekaligus asisten Ayah.
Meski tak besar, kedai ini selalu ramai. Ketika hari kerja, kebanyakan pelanggan adalah pegawai kantoran dan buruh pabrik. Sementara akhir pekan dipadati oleh anak muda.
Bagi kami, Panduranga adalah segalanya. Makanya, kami pun tinggal di atas kedai ini, tepatnya di lantai dua dan tiga, agar dapat menjaganya dengan baik.
Sebagai putri semata wayang, aku mendapatkan kasih sayang melimpah dari kedua orangtua. Apapun keinginanku, mereka berusaha memenuhinya, meskipun aku tidak memaksa.
Saat pandemi AVIDS dimulai, Ayah langsung membelikan laptop agar aku dapat mengikuti pembelajaran jarak jauh. Ketika aku meminta mainan yang kulihat di iklan TV, besoknya barang itu sudah ada di rumahku.
Orangtuaku benar-benar hadir dalam setiap langkah hidupku. Aku pun sangat menyayangi keduanya.
Namun, hari itu benar-benar tak biasa. Entah kenapa, aku tidak bisa menahan amarahku.
Padahal, masalahnya sangat sepele. Ibu tanpa sengaja menghilangkan file serial drama yang tersimpan di laptopku.
Ibuku memang agak payah dalam urusan teknologi. Itu wajar, karena ia lahir di keluarga yang sangat miskin. Jangankan belajar komputer, untuk makan saja susahnya minta ampun.
Kondisi sulit yang dialami ibuku tidak lepas dari kebrutalan Perang Vietnam. Kakekku adalah seorang kuli panggul yang terluka parah setelah desanya diserbu. Setengah bagian tubuhnya lumpuh akibat terkena senjata kimia yang digunakan dalam pertempuran.
Sejak saat itu, nenekku menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kue di jalanan. Ibuku, yang saat itu beranjak remaja, juga ikut membantu usaha nenek.
Sudah tahu seperti itu, harusnya aku legowo ketika ibu tak sengaja menghilangkan file di laptopku. Namun, aku malah merasa tidak terima, dan mengurung diri di dalam kamar selama berjam-jam.
“Nak, keluarlah. Ayo makan dulu,” pinta ibu dengan nada memelas, sembari mengetuk pintu kamarku.
“Kau sudah dua jam mengunci diri di kamar. Nanti kamu sakit….”
“Tidak mau!” jawabku dengan ketus.
“Ibu minta maaf tak sengaja menghapus serial drama di laptopmu. Nanti ibu bakal ganti dengan yang lain”
“Hoa, keluarlah. Dengarkan perkataan ibumu.”
Ternyata Ayah sampai naik ke lantai tiga demi membujuk diriku.
“Kita akan ganti semuanya dengan yang baru. Kau boleh meminta apa saja”
Dasar anak yang tak tahu diuntung dan keras kepala, aku tetap ngotot dengan kemarahanku.
“Gak bisa! File itu jumlahnya 10GB. Untuk download semuanya pasti butuh kuota banyak!”
Selama hampir setengah jam, aku dan kedua orangtuaku saling melempar argumen. Setiap kali mereka mengeluarkan kata-kata bujukan dan rayuan, aku selalu membalasnya dengan keras. Pokoknya, aku tidak boleh kalah. Orangtuaku harus menyesali semua kesalahan yang telah mereka lakukan!
Lama-kelamaan, perdebatan kami semakin panas. Ayah dan Ibu sepertinya mulai habis kesabarannya, dan memintaku keluar kamar dengan nada tinggi. Bukannya menurut, kekesalanku justru semakin memuncak.
Hingga akhirnya…..
Brakkk!! Secara refleks, aku melempar lampu meja di samping ranjang ke pintu kamarku. Mengeluarkan suara begitu keras, hingga membuat orangtuaku terhenyak.
“Aku benci kalian semua!” teriakku marah.
“Aku tidak mau bertemu kalian lagi!”
“Pergi sana!”
------
Halo, guys!
🔥 Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?
Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨
Bundle terbaru sudah tersedia di Karyakarsa
⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutkan ceritanya
🔥 Temukan apa yang terjadi setelah bagian terakhir!
Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇
Karyakarsa: https://bit.ly/MSKaKa
