Mantra Sakti ― Bagian 5: Berpacu dengan Waktu - Byradian - Radian Wedagama
Terbaru
Loading...

Jumat, 02 Oktober 2026

Mantra Sakti ― Bagian 5: Berpacu dengan Waktu

 




  Tanpa pikir panjang, aku berlari turun ke lantai bawah. Kusingkirkan semua benda rusak yang menghalangi tangga dengan kakiku. 

   Di ujung anak tangga terdapat pintu menuju garasi. Aku berusaha membukanya, namun tidak bisa. Pintu itu macet disaat yang genting seperti ini. Mungkin karena terburu-buru, Ayah menutupnya dengan kasar. Sehingga ada kerusakan di kuncinya.

   "Ayo cepatlah!" teriakku dengan tidak sabar, sembari berusaha mendobrak pintu.

   Tendangan, tinju, hingga pukulan bertubi-tubi kulayangkan agar pintu sialan itu terbuka. Hasilnya tetap saja nihil.

    Saat terengah-engah karena lelah berusaha, aku melihat sebuah batang kayu besar tergeletak di lantai. Sepertinya itu adalah penyangga atap, yang jatuh ketika Asurian merusak rumah kami. Usia rumah dan toko kami ini memang cukup tua. Makanya, rangka atapnya masih menggunakan kayu, bukan baja ringan seperti bangunan kekinian.

   Bagi orang normal, batang kayu cuma rongsokan tak berguna. Namun buatku, benda itu adalah penyelamat. Kuraih batang kayu itu, dan langsung kupakai untuk mendobrak pintu. Kuayunkan berkali-kali ke arah pintu dengan sekuat tenaga.

   Setelah terus mencoba, pukulanku berhasil menghancurkan engselnya. Sekarang, pintu itu terbuka lebar. Membuatku leluasa untuk mengambil motor yang terparkir di garasi.

   Karena membuang waktu cukup banyak saat mendobrak pintu garasi, kupikir dua Asurian itu sudah menghilang. Ternyata aku masih bisa melihat mereka dari kejauhan. Kukencangkan helm di kepala, aku langsung tancap gas dengan motor skuter kesayangan keluarga, yang biasa dipakai untuk mengantarkan pesanan ke pelanggan.

    Bruuummmmm

   Akibat terlalu fokus ke monster penculik ayah dan ibu, aku lupa mengukur kecepatan motorku, yang rasanya sudah mencapai 100 km/jam. Hasil yang tidak buruk, apalagi untuk orang yang baru dua kali belajar mengendarai sepeda motor. 

  Dengan mengemudi "secepat kilat" itu, aku berhasil mengambil jarak cukup dekat dengan kedua Asurian.

   Namun, sepertinya mereka sadar bahwa ada bahaya yang sedang mengintai. Langkah mereka yang tadinya agak santai berubah menjadi begitu cepat. Tak ingin kehilangan keduanya, aku menarik gas lebih dalam lagi.

    Nguuooooongggg

   Suara skuter kuningku meraung-raung seperti motor balap, di kota yang sepi ditinggal penduduknya ke pengungsian. Rambut panjangku yang dikuncir seolah berkibar di udara. 

   Namun, itu pun masih belum bisa menandingi kecepatan kedua Asurian. Mereka benar-benar lincah. Langkah mereka seolah melayang di atas jalanan. Selain itu, suara kaki mereka saat menyentuh aspal sangat keras. Sampai-sampai meninggalkan beberapa lubang besar.

  Dalam waktu kurang dari setengah jam, kedua Asurian itu mampu mencapai perbatasan kota. Lokasinya yang berada di wilayah perbukitan ternyata menguntungkan mereka. Keduanya mulai lompat ke atas bukit yang terjal. Langkah itu membuat usahaku mengejar mereka semakin sulit.

    "Sial, apa yang harus kulakukan," pikirku bertanya-tanya.

    Aku benar-benar kehabisan akal. Para monster itu sudah memanjat bukit. Bagaimana caranya aku bisa mencapai mereka dengan skuter kecil?

   Akhirnya, aku memilih untuk naik ke bukit melalui jalan setapak di dekat sana. Aku yakin dapat mendekati mereka, asalkan dengan kecepatan penuh. Tapi sebelum itu, aku harus mengambil ancang-ancang. Kutarik gas dalam-dalam, hingga knalpot terasa meledak-ledak seperti bom panci.

    Bruummmm tak tak bruumm bruumm

  Ketika merasa siap, aku pun melepaskan rem tangan. Skuterku langsung melesat di jalan setapak. Ternyata medannya sangat curam. Tepat setelah tanjakan, aku harus menemui turunan tajam. Membuat skuterku seolah menukik ke bawah. 

  Tak lama kemudian, sebuah tanjakan yang tak kalah curam terlihat di depan mataku. Dengan kecepatan hampir 100 km/jam, medan ekstrem, dan kualitas jalan yang rusak, tubuhku berguncang tak karuan di atas skuter.

    "Ow..oww...duh...aduh!" teriakku kesakitan ketika berusaha menjaga keseimbangan.

    Sementara itu, jalanan ini tidak dilengkapi pagar pembatas. Jika lengah sedikit, aku bisa saja jatuh ke jurang dari ketinggian 50 meter.

  Meski sangat terjal, perlahan aku mampumendekati target untuk kedua kalinya. Sayangnya, dua monster itu masih merayapdi atas tebing, yang sulit kujangkau dengan skuter. 

   Aku harus menemukan cara untuk menghentikan mereka disini.



   - bersambung -


------

Halo, guys!

🔥 Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?

Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨

Bundle terbaru sudah tersedia di Karyakarsa

⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutkan ceritanya
🔥 Temukan apa yang terjadi setelah bagian terakhir!

Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇

Karyakarsa:  https://bit.ly/MSKaKa



Share with your friends

Mau Pergi Kemana? Kok Buru-Buru Banget :)
Yuk Komen Disini Dulu
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done