Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kesadaranku sudah menurun drastis, sehingga hanya bisa mengetahui kondisi sekitar dengan meraba-raba pakai tangan.
Sepertinya aku mendarat di atas batu tebing yang mendatar. Batu itu benar-benar menjadi penyelamat, karena menghalangiku jatuh ke dasar jurang.
“S...syukurlah,” ucapku lirih.
Aku sangat senang, karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Tanpa terasa, aku menitikkan air mata penuh haru. Belum pernah aku merasa sebahagia ini.
Kini, aku terkapar dalam kondisi telentang. Mataku menghadap ke arah langit, sehingga bisa melihat pemandangan di atas bukit. Awan mendung, yang menyelimuti sejak di dalam kota, berubah menjadi hitam pekat. Pertanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan.
Benar saja. Kurang dari lima menit kemudian, air mulai berjatuhan dari atas langit. Membersihkan debu dan luka yang menutupi tubuhku. Rasanya benar-benar menyegarkan, meskipun nyeri dan perih masih terasa.
Di tengah derasnya hujan, tiba-tiba sebuah bayangan hitam tampak dari atas bukit. Penglihatanku masih agak buram setelah terguling di tebing tadi. Walau samar-samar, aku bisa menebak itu adalah bayangan Asurian brengsek yang menjatuhkanku.
Lama kelamaan, aku bisa melihatnya dengan jelas. Ia sedang mengintip ke bawah. Melihatku terkapar tak berdaya, wajahnya tampak sangat puas dan penuh kemenangan.
Sikap monster itu membuatku naik pitam.
Seolah ingin menggapainya, aku merentangkan tangan ke atas, dan berusaha untuk bangkit. Namun, tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak. Kakiku seperti mati rasa.
Kucoba goyangkan tubuhku agar bisa bergerak. Tapi percuma saja. Cederaku sangat parah, dan mungkin ada beberapa tulang yang patah tanpa kusadari.
Tak lama kemudian, Asurian itu langsung pergi. Ia memanjat dan melompat di atas bukit, sembari membawa tubuh ayahku. Disusul oleh temannya yang memanggul ibuku. Aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan kosong, hingga mereka hilang sepenuhnya dari pandangan.
Aku....telah gagal menyelamatkan orangtuaku.
Aku....telah kehilangan orangtuaku untuk selamanya.
Tubuhku begitu lemas ketika memikirkannya. Mulai saat ini, aku harus hidup tanpa kehadiran Ibu dan Ayah. Sebatang kara di usia yang masih belia adalah mimpi buruk setiap anak. Tidak pernah sedetik pun aku mengira hal ini akan terjadi padaku.
Tanpa sadar, pikiranku yang penuh beban telah menghabiskan sisa energiku. Kondisi tubuhku dengan cepat menurun drastis. Mataku tidak kuat lagi untuk terbuka, dan akhirnya menutup dengan sendirinya.
Di tengah guyuran hujan dan dikelilingi batuan kapur, aku terbaring tak sadarkan diri. Aku berharap seseorang dapat menemukanku yang lemah tak berdaya di bukit sepi ini.
- bersambung -
------
Halo, guys!
🔥 Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?
Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨
Bundle terbaru sudah tersedia di Karyakarsa
⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutkan ceritanya
🔥 Temukan apa yang terjadi setelah bagian terakhir!
Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇
Karyakarsa: https://bit.ly/MSKaKa
