Byradian - Radian Wedagama
Terbaru
Loading...

Senin, 28 September 2026

Mantra Sakti ― Bagian 1: Kemarahan

  

   


Setelah sekian lama, aku baru sadar ternyata hidupku selama ini menyenangkan, meskipun punya banyak keterbatasan. Andai saja aku bersyukur ketika itu. Mungkin jalan hidupku akan jauh berbeda. 

Ah, ingin rasanya pergi ke masa lalu. Penyesalan memang selalu datang terlambat, dan semua yang hilang tidak akan pernah kembali.

Aku lahir di keluarga yang sederhana. Ayahku adalah pemilik Panduranga, kedai mie kecil di Phan Rang, sebuah kota yang menghadap Laut Cina Selatan. Ibuku juga bekerja disana sebagai pelayan sekaligus asisten Ayah. 

Meski tak besar, kedai ini selalu ramai. Ketika hari kerja, kebanyakan pelanggan adalah pegawai kantoran dan buruh pabrik. Sementara akhir pekan dipadati oleh anak muda.

Bagi kami, Panduranga adalah segalanya. Makanya, kami pun tinggal di atas kedai ini, tepatnya di lantai dua dan tiga, agar dapat menjaganya dengan baik. 

Sebagai putri semata wayang, aku mendapatkan kasih sayang melimpah dari kedua orangtua. Apapun keinginanku, mereka berusaha memenuhinya, meskipun aku tidak memaksa. 

Saat pandemi AVIDS dimulai, Ayah langsung membelikan laptop agar aku dapat mengikuti pembelajaran jarak jauh. Ketika aku meminta mainan yang kulihat di iklan TV, besoknya barang itu sudah ada di rumahku.

 Orangtuaku benar-benar hadir dalam setiap langkah hidupku. Aku pun sangat menyayangi keduanya.

 Namun, hari itu benar-benar tak biasa. Entah kenapa, aku tidak bisa menahan amarahku. 

 Padahal, masalahnya sangat sepele. Ibu tanpa sengaja menghilangkan file serial drama yang tersimpan di laptopku.

Ibuku memang agak payah dalam urusan teknologi. Itu wajar, karena ia lahir di keluarga yang sangat miskin. Jangankan belajar komputer, untuk makan saja susahnya minta ampun.

Kondisi sulit yang dialami ibuku tidak lepas dari kebrutalan Perang Vietnam. Kakekku adalah seorang kuli panggul yang terluka parah setelah desanya diserbu. Setengah bagian tubuhnya lumpuh akibat terkena senjata kimia yang digunakan dalam pertempuran.

Sejak saat itu, nenekku menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kue di jalanan. Ibuku, yang saat itu beranjak remaja, juga ikut membantu usaha nenek.

Sudah tahu seperti itu, harusnya aku legowo ketika ibu tak sengaja menghilangkan file di laptopku. Namun, aku malah merasa tidak terima, dan mengurung diri di dalam kamar selama berjam-jam.

“Nak, keluarlah. Ayo makan dulu,” pinta ibu dengan nada memelas, sembari mengetuk pintu kamarku.

“Kau sudah dua jam mengunci diri di kamar. Nanti kamu sakit….”

“Tidak mau!” jawabku dengan ketus.

“Ibu minta maaf tak sengaja menghapus serial drama di laptopmu. Nanti ibu bakal ganti dengan yang lain”

“Hoa, keluarlah. Dengarkan perkataan ibumu.” 

Ternyata Ayah sampai naik ke lantai tiga demi membujuk diriku.

“Kita akan ganti semuanya dengan yang baru. Kau boleh meminta apa saja”

Dasar anak yang tak tahu diuntung dan keras kepala, aku tetap ngotot dengan kemarahanku.

“Gak bisa! File itu jumlahnya 10GB. Untuk download semuanya pasti butuh kuota banyak!”

Selama hampir setengah jam, aku dan kedua orangtuaku saling melempar argumen. Setiap kali mereka mengeluarkan kata-kata bujukan dan rayuan, aku selalu membalasnya dengan keras. Pokoknya, aku tidak boleh kalah. Orangtuaku harus menyesali semua kesalahan yang telah mereka lakukan!

Lama-kelamaan, perdebatan kami semakin panas. Ayah dan Ibu sepertinya mulai habis kesabarannya, dan memintaku keluar kamar dengan nada tinggi. Bukannya menurut, kekesalanku justru semakin memuncak. 

Hingga akhirnya…..

Brakkk!! Secara refleks, aku melempar lampu meja di samping ranjang ke pintu kamarku. Mengeluarkan suara begitu keras, hingga membuat orangtuaku terhenyak.

“Aku benci kalian semua!” teriakku marah.

“Aku tidak mau bertemu kalian lagi!”

“Pergi sana!” 


------

Halo, guys!

🔥 Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?

Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨

Bundle terbaru sudah tersedia di Karyakarsa

⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutkan ceritanya
🔥 Temukan apa yang terjadi setelah bagian terakhir!

Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇

Karyakarsa:  https://bit.ly/MSKaKa

Sabtu, 26 September 2026

Mantra Sakti ---- Prolog

 

  




   Bukit orang mati

  Itulah arti nama Mohenjo-daro. Sebuah reruntuhan kota kuno yang terletak di lembah sungai Indus, wilayah yang disebut sebagai salah satu titik awal lahirnya peradaban umat manusia.

  Bagi para sejarawan dan ahli arkeologi, yang malang melintang dalam penelitian masa lampau, keberadaan tempat ini sangatlah misterius. 

  Mohenjo-daro diperkirakan muncul sekitar 4.600 tahun silam. Waktu yang sangat lama. Bila dibandingkan dengan kota pada zamannya, Mohenjo-daro dilengkapi dengan tata ruang serta teknologi yang sangat canggih. 

   Ia punya desain perkotaan yang begitu rumit. Kawasan pemukiman saling terhubung oleh jaringan jalan umum yang relatif sempit, namun bisa dilalui oleh kuda maupun kendaraan tradisional lain. 

  Setiap rumah telah dilengkapi oleh kamar mandi pribadi dan selokan yang mengarah ke saluran pembuangan utama kota. Untuk memenuhi kebutuhan air, mereka mengandalkan 700 sumur yang tersebar di seluruh penjuru kota.

  Masyarakat Mohenjo-daro juga pintar dalam memahami lingkungan. Sadar bahwa tempat tinggalnya berada di tepi sungai, mereka membangun drainase dan bendungan untuk melindungi diri dari banjir tahunan. 

  Iklim yang panas mendorong mereka untuk merancang ventilasi dan tembok-tembok tinggi, yang mampu menyalurkan angin serta memberi keteduhan bagi para penduduk. Bahkan para pengunjung masa kini yang datang kesana masih bisa merasakan hawa sejuk di tengah reruntuhan.

  Kendati dibekali segala keunggulan, Mohenjo-daro mulai mengalami kemunduran 600 tahun kemudian. Hal ini terlihat dari bukti-bukti fisik, yang menunjukkan adanya perpindahan penduduk secara perlahan. Tidak diketahui pasti apa alasannya, atau pergi ke mana para warga tersebut.

  Selama 3.600 tahun, Mohenjo-daro sama sekali tak berpenghuni, dan terkubur jauh di bawah tanah. Pada tahun 1922, kota ini kembali muncul ke permukaan setelah ditemukan oleh Rakhal Banerji, seorang arkeolog terkemuka asal India. 

  Sejak saat itu, Mohenjo-daro menarik minat para ilmuwan dan ahli sejarah dari seluruh dunia. Mereka berbondong-bondong datang untuk mengungkap misteri dari kota kuno yang luar biasa ini. Tak terkecuali seorang pria yang tampak sedang berjalan tergopoh-gopoh. Ia menghampiri kerumunan orang yang berkumpul di antara reruntuhan. 

  “Ada apa ini?” tanyanya.

  “Mengapa kalian berhenti bekerja?”

  Para warga lokal, yang juga menjadi pekerja galian situs bersejarah, saling tatap satu sama lain. Wajah mereka agak pucat dengan tubuh gemetar. Seolah-olah takut untuk mengungkapkan sesuatu. 

  Namun, ada salah satu dari mereka yang akhirnya maju untuk menjawab pertanyaan. Ia adalah seorang pemuda yang berumur 25 tahun. 

  “Maaf, tuan. Sepertinya kami tidak bisa lagi melanjutkan penggalian ini”

  Penjelasan itu membuat si pria kaget. Matanya berubah jadi tajam.

  “Kenapa?!”

  Pemuda itu menunjuk ke arah sebuah tanda warna merah, yang berlambang seperti tengkorak berbentuk aneh, dan sepasang tulang dalam posisi horizontal di belakangnya.

  “Iya, terus?”

  “Dengan segala hormat, tuan. Simbol merah pada dinding batu itu menggambarkan tengkorak Asura, musuh para dewa,” terang si pemuda penuh sopan santun.

  “Artinya, ruang bawah tanah yang kita bongkar ini adalah tempat untuk menyegel Asura. Mungkin saja mereka pernah menyerang kota ini, namun berhasil dikurung di dalam sini”

  “Penggalian ini, jika diteruskan, hanya akan mengundang kesialan dan bencana bagi kita semua. Dan….ughhh!”

  Bukkkkk!

  Sebuah tinju melayang tepat di wajah pemuda itu, hingga membuatnya terjerembab di tanah. Darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya. Ya, benar. Si pria menganiaya pemuda yang malang itu tanpa ampun. 

  “Rajesh!” teriak pekerja yang lain, memanggil nama si pemuda. Mereka segera menghampirinya untuk memberikan pertolongan pertama.

  “A-aku tidak apa-apa.” Rajesh berusaha menenangkan wajah-wajah khawatir di sekelilingnya.
  Pria itu menunjukkan tatapan jijik.

  “Idiot!” makinya. 

  “Memangnya kau pikir kau siapa, hah? Beraninya orang berpendidikan rendah menceramahi seorang ilmuwan. Sudah setinggi apa ilmu kau, hah?!”

  “Semua ucapanmu itu cuma omong kosong! Hanya gara-gara takhayul kalian berhenti bekerja? Konyol sekali. Bisa-bisanya kalian dibodohi mitos, dasar tolol!”

  Masih melontarkan ocehan kasarnya, si pria mencoba menerobos ke ruang bawah tanah. Namun ia tak kunjung masuk, karena tak ada pekerja yang menemaninya.

  “Woy, sedang apa kalian disana, hah? Ikuti aku sekarang!”

  Meski mendengar perintah, para pekerja itu tak bergeming. Sikap diam mereka jelas menunjukkan pemberontakan dan rasa muak atas perilaku tuan mereka yang semena-mena.

  “Brengsek! Kalian tidak akan lolos dari ini!” 

  Pria itu mengambil helm dan senter kepala sembari misuh-misuh, dan akhirnya pergi sendirian ke dalam tempat yang konon terlarang itu.

  “Sombong sekali dia!”

  “Kalau saja dia bukan antek-antek kesayangan para pejabat dan elit pemerintah, aku pasti sudah menghajarnya sampai binasa!”

  Suara-suara amarah dan ketidakpuasan mulai terdengar seiring tubuh pria itu masuk ke ruang bawah tanah.

  Profesor Karana Malartha. Demikian nama laki-laki berkacamata dengan rambut klimis itu. Ia merupakan arkeolog sekaligus dosen di Universitas Contralto. Kampus swasta tak terkenal di Amerika Latin.

  Malartha sangat benci dengan tempat kerjanya saat ini. Sebelumnya, ia merupakan ilmuwan asing yang mendapatkan posisi penting di Universitas Bali, satu dari sepuluh perguruan tinggi terbaik di dunia. 

  Ia pernah menjabat sebagai ketua prodi, dekan, kepala bagian kemahasiswaan, dan sering dipercaya untuk memimpin proyek-proyek ilmiah yang bergengsi.

  Namun, berbanding terbalik dengan pencapaian besarnya selama ini, Malartha kurang disukai oleh orang lain. Khususnya dari rekan-rekan dunia akademik dan riset ilmu pengetahuan. Ia dikenal sebagai sosok kelewat ambisius yang gila terhadap pujian dan kedudukan.

  Demi mengejar penghargaan, ia kerap memanipulasi data penelitian. Seolah-olah penemuan yang ia dapatkan sangat hebat. Padahal aslinya biasa saja atau tidak penting sama sekali.
 
  Selama tujuh tahun aksinya tidak ketahuan oleh siapapun. Ia terus mendapatkan dana riset hingga jutaan dolar lewat sponsor pemerintah dan yayasan publik.
 
  Akan tetapi, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Perilakunya terbongkar oleh kecerobohan asistennya, yang salah mengirim percakapan rahasia mereka ke orang lain. Yaitu grup chat rektorat universitas.
 
  Setelah dosanya tersebar luas, Malartha dan beberapa anggota timnya langsung diseret ke sidang kode etik. Hasilnya, ia dianggap telah melanggar prosedur ilmiah, sekaligus mencederai semangat ilmu pengetahuan.
 
  Lima tahun yang lalu, Malartha resmi dipecat secara tidak hormat. Para bawahan, yang merasa menderita saat bekerja dengannya, langsung bersuka cita. Mereka menganggap momen itu sebagai hadiah dari para dewa. Sebab, keputusan pemecatan itu keluar tepat pada Hari Saraswati  yang penuh berkah.
 
  “Sialan orang-orang bodoh itu!” umpat Malartha penuh dendam.

  Ia menggebuk dinding ruang bawah tanah yang ada di sebelahnya. Keras sekali pukulannya. Tindakan emosional itu rupanya berdampak serius.

  Brakkk Brakkk Brakkk Brakkk!

  Tanpa sangka, susunan batu yang membentuk dinding kuno itu langsung runtuh. Menghasilkan suara begitu keras serta debu yang pekat.
 
  Terkejut dengan hasil perbuatannya, Malartha sontak berusaha menyelamatkan diri.

  “Wuaaaaah!” jeritnya panik.
 
  Akan tetapi, sebelum ia sempat keluar dari ruang bawah tanah, kegaduhan itu sudah berakhir. Ternyata dibalik dinding yang telah berlubang tersebut, ada sebuah tangga yang menurun ke bawah. Ia tampak seperti jalan rahasia yang tak jelas ke mana arahnya.
 
 Malartha, dengan rasa ingin tahu yang tinggi, langsung mengambil kesempatan ini sebaik mungkin.

  Bwooooosh!

  Baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, semua obor yang terpasang di sisi tangga langsung menyala. Menerangi sepanjang jalan yang tadinya gelap gulita.
 
  “M-mustahil,” gumam Malartha tak percaya.

  Sistem pencahayaan yang dilihatnya ini sangat hebat. Padahal cuma berupa obor, tapi bisa menyala otomatis bak lampu listrik jaman modern. Bagaimana mungkin masyarakat kuno bisa menemukan teknologi serumit ini? Misterius sekali!

  Malartha melanjutkan perjalanan menyusuri anak tangga. Tempat ini terasa sepi dan begitu kosong. Tiap suara yang dihasilkan selalu bergema ke segala penjuru. Termasuk langkah kaki hingga tetesan air. Menambah kesan horor dan menyeramkan yang bikin merinding.
 
  Nyali Malartha perlahan mulai ciut. Memang itulah sifat aslinya. Penakut tapi bergaya sok otoriter. Walau begitu, ia tetap memaksakan diri untuk maju terus. Eksplorasi kali ini adalah kesempatan emas untuk mengembalikan harga dirinya yang selama ini “terinjak-injak”.

  Lima belas menit berlalu, tangga itu belum juga terlihat ujungnya. Jalur ini sungguh panjang tak terkira.
 
  “Sebenarnya ini tempat apa sih?” gumam Malartha keheranan.
 
  Pikirannya mulai teringat dengan cerita anak buahnya yang ia hajar tadi. Jangan-jangan, tempat ini memang area terlarang yang disegel oleh para dewa. Kalau benar, ia pasti akan dikutuk karena lancang menerobos kemari. Sama nasibnya dengan para arkeolog yang tewas terkena penyakit misterius setelah menggali makam raja-raja Mesir.

  “Ah, yang benar saja! Sadarlah. Kutukan itu tidak ada. Bohong!” Malartha menenangkan diri dengan mengambil kesimpulan logis.
 
  Sriiiiiinggg!

  Penelusuran yang melelahkan ini akhirnya menemui titik terang. Seberkas cahaya terlihat berkilauan di ujung jalan. Warnanya keemasan, dan memancarkan sinar berkilauan dari kejauhan.

  Tanpa pikir panjang, Malartha langsung bersemangat mengejarnya, karena ia yakin pasti ada benda berharga yang bisa didapatkan disana. 

  Dugaannya tepat! Cahaya itu muncul dari sebuah ruangan besar berbentuk lingkaran, yang sekilas mirip aula pertemuan. Di tengahnya berdiri tegak sebuah pilar raksasa yang dihiasi ukiran rumit. Tingginya sekitar lima atau enam meter, setara dengan rumah berlantai dua.
 
  “H-hebat!” batin Malartha, takjub melihat ada struktur sebesar ini di bawah tanah.
 
  Ia kemudian mengusap-usap permukaan pilar yang agak licin dengan tangan kosong. Pilar ini rupanya terbuat dari batu marmer yang dipoles mengkilap. Jelas bertolak belakang dengan reruntuhan Mohenjo-daro lain yang dibangun dari batuan lumpur.
 
  Perbedaan bahan itu menunjukkan bahwa pilar ini diperlakukan lebih istimewa. Terlebih, batu marmer sulit untuk diperoleh karena terbentuk dari proses metamorfosa batu gamping yang terjadi selama jutaan tahun. Sehingga hanya bisa ditemukan di gunung tertentu.
 
  “Tapi, kenapa harus diletakkan di bawah tanah begini? Untuk menjangkaunya saja harus lewat jalan rahasia dulu. Apakah benar masyarakat tahu mengenai keberadaan ruangan ini?” Malartha pun kian penasaran.

  Sriiiiing!

  Suara dengung kembali terdengar untuk kedua kalinya. Ia muncul bersamaan dengan pancaran sinar dari dalam pilar. Sinar tersebut terdiri atas empat warna berbeda. Yaitu merah, oranye, kuning, dan hijau. Keempat sinar itu memancar ke penjuru mata angin; timur, barat, utara, dan selatan.

  Malartha mendekati sumber sinar itu berasal. Ternyata di bagian tengah pilar terdapat lubang berukuran sedang, yang menjadi celah bagi sinar untuk memancar keluar. Jumlahnya juga ada empat; masing-masing menghadap ke satu mata angin. 

  Adanya lubang-lubang ini pun menguntungkan Malartha. Matanya bisa mengintip ke dalam pilar untuk mengetahui seperti apa isinya. Disana ada semacam batu…eh bukan. Lebih tepatnya batu kristal berwarna-warni. Benda inilah yang menghasilkan sinar aneh tersebut.
 
  Srak Srak Srak

  Malartha mencoba mengorek empat lubang itu dengan pisau lipat dari sakunya. Walau terbuat dari marmer, permukaan pilar cukup rapuh, bisa jadi karena faktor usia ribuan tahun. Cuma butuh sepuluh menit, ia sudah terbuka sangat lebar.

  Ilmuwan itu pun memasukkan tangannya ke dalam lubang. Jari-jarinya bergerak meliuk-liuk dengan gesit, sebelum akhirnya berhasil membawa bola kristal itu keluar.
 
  Wiiiiingg

  Malartha mengamatinya dengan seksama. Bila dilihat dari jarak dekat, bola kristal itu sebenarnya transparan seperti kaca. Yang bikin berwarna adalah kepulan asap yang terus berputar dan terperangkap di bagian dalamnya. Asap itu pula yang diduga mengeluarkan suara melengking dari sana.

  “Hmmm, benda apaan sih ini?”

  Malartha membolak-balik bola kristal sembari memegangi dagunya. Lagi-lagi ia dibuat bingung saat melihat hasil temuannya.  Sebenarnya cara yang terbukti paling efektif untuk mendapatkan informasi tentang benda kuno adalah lewat peninggalan tertulis.

  Para arkeolog bisa mengetahui siapa pendiri Candi Borobudur dari tulisan di Prasasti Tri Tepusan. Sementara penjelajah Eropa mampu mengungkap sejarah Mesir Kuno dengan menafsirkan huruf hiroglif yang tercetak di dinding piramida.
 
  Masalahnya, Mohenjo-daro tidak punya teks semacam itu. Melainkan cuma stempel berlambang binatang, pepohonan, dan ikan yang sampai sekarang belum mampu diterjemahkan.
 
  “Huh? H-hei, tunggu sebentar”

  Kepalanya sedang menoleh ke sebelah kanan ketika Malartha melihat ada sesuatu yang terpasang di lantai pilar. Setelah dicek, ternyata merupakan plakat batu berlapiskan perak.
 
  Di atasnya terukir simbol sederhana yang menampilkan wujud manusia. Tubuhnya tampak sedang melayang di udara dengan kedua tangan menggenggam benda mirip kilatan petir. Sedangkan di bagian kiri plakat juga ada simbol makhluk menyerupai manusia, namun memiliki tanduk kepala dan berkuku tajam.
 
  Bila dilihat secara keseluruhan, manusia dan makhluk bertanduk itu saling berhadapan, seolah dalam posisi bertarung. Yang mengherankan lagi, si makhluk bertanduk digambarkan berada di tengah lingkaran besar, dengan wajah kalut bagaikan orang yang terjebak.
  
  Jujur, semakin lama teka-teki ini kian memusingkan.

  “Lho? Jangan-jangan.....”

  Namun lain halnya dengan Malartha. Matanya terbuka lebar kala menganalisa plakat itu.  Ekspresinya yang berubah jadi cerah itu menandakan bahwa ia berhasil memecahkan misteri benda kuno itu.   Ia bolak-balik mengamati satu persatu simbol itu. Sesekali ia mengangguk, berdehem, dan menyentuh plakat untuk meyakinkan diri. Aksinya kemudian berakhir dengan tawa-tawa kecil.

  “Fufufufu”

  “Hehehehe”

  Lambat laun, senyum licik mulai mengembang di wajahnya yang keriput. Entah apa yang ia pikirkan di dalam kepalanya. Yang jelas, ia pasti sedang merencanakan sesuatu dengan bola kristal itu.


*****

   “Huahahahaha!”

  Suara gelak tawa dan alunan musik bergema menyelimuti seisi ballroom. Para pengunjung sibuk berpesta pora sembari disuguhi hidangan mewah buatan para chef bintang lima. Mereka semua merupakan penumpang kapal pesiar Aurum Latro yang saat ini sedang berlayar melintasi Polinesia, sebuah kepulauan di Samudera Pasifik.

  Kapal pesiar ini disebut sebagai yang terbesar dan termewah di kelasnya. Ia memiliki tinggi 75 meter, setara dengan bangunan 15 lantai. Fasilitasnya tak main-main. Ada kamar hotel, ruang dansa atau ballroom, kolam renang, gym, bioskop, dan lounge.
 
  Berkat segala keunggulan yang ditawarkan, setiap orang yang naik Aurum Latro pasti merasa betah dan nggak mau lagi pulang ke rumah. Tak heran, harga satu tiketnya mencapai 5.000 kana. Setara dua kali gaji bulanan hanya untuk perjalanan selama seminggu.
 
  Saat ini dunia memasuki akhir bulan Desember. Musim dingin yang disertai hujan salju nan lebat telah tiba. Untuk menghangatkan diri, masyarakat dari Eropa dan Amerika Utara ramai-ramai pergi berlibur ke daerah tropis seperti Polinesia, yang jadi salah satu destinasi wisata tropis unggulan.
 
  Makanya, tiket perjalanan Aurum Latro langsung ludes dalam waktu lima hari setelah diborong oleh orang-orang kaya dan warga kelas atas lainnya.
 
  Namun, tidak semua penumpang disana mendapatkan harta dengan cara baik-baik. Beberapa kali pejabat korup, anak-anak diktator, hingga bos-bos gangster terlihat berseliweran di lobi kapal.
 
  Mereka dan anak buahnya masuk ke berbagai tempat untuk menjajal setiap fasilitas. Ada yang datang ke kasino untuk berjudi, belanja barang branded di butik dengan duit haram, atau bersantai di lounge seraya menikmati keindahan laut.
 
  Seorang pria berkepala plontos, yang mengenakan setelanun putih dan kalung rantai, memilih opsi yang terakhir. Baginya, judi dan shopping sangat tidak bijak. Seharusnya di tengah kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu, manusia menjaga uang mereka untuk mempersiapkan masa depan. Bukan menghamburkannya untuk foya-foya atau kesenangan sesaat. 

  Pemikiran yang sangat mulia, bukan?

  Sayangnya, prinsip pria ini justru sangat berlawanan dengan aktivitasnya. Ia adalah Alfonso Contralto, ayah dua anak sekaligus bos grup mafia Il Contralto yang jadi momok di dunia hitam.
 
  Kelompok ini menjalankan bisnis yang semuanya ilegal. Mereka bertanggung jawab atas 90% peredaran obat-obatan terlarang di belahan dunia barat. Produk narkoba unggulan mereka, Xylazine atau Tranq, bahkan menyebabkan jutaan pemakai di Amerika berperilaku seperti ‘zombie’. Berkeliaran tanpa arah dengan kulit membusuk, lalu berbuat kriminal di jalanan.

  Kewalahan dengan wabah ini, pemerintah Amerika Serikat (AS) pun menyatakan ‘perang’ melawan Tranq. Contralto menjadi incaran DEA—badan anti narkotika AS—sebagai musuh nomor satu yang harus segera ditangkap. Namun, berkat lobi-lobi politik yang lihai, ia belum tersentuh hukum sama sekali.

  Tak cuma narkoba, Contralto juga tertarik dengan peninggalan sejarah. Ia mengoleksi artefak kuno bernilai tinggi, yang didapatkan dari cara baik maupun jahat. Misalnya, ia pernah membobol 20 museum nasional di dunia dan mencuri koleksi penting di dalamnya tanpa ketahuan.

  Benda-benda itu disimpan di ruang rahasia di Universitas Contralto, perguruan tinggi yang didirikan sebagai tempat pencucian uang hasil bisnis haram mereka. Jika situasi aman, mereka akan menjualnya di pasar gelap dengan harga fantastis.

  Hobi itu pula yang membuat Contralto menanti seseorang di lounge kapal sembari menghisap cerutu Kuba kesayangannya.

  “Meno male! Lihat siapa yang sudah datang,” sambut Contralto, riang melihat sosok yang ia tunggu telah tiba di hadapannya.
 
  Ternyata orang yang dimaksud adalah Malartha.  Ia datang dengan membawa tas jinjing warna silver yang terbuat dari aluminium. Ukurannya besar, dan sepertinya lumayan berat.

  Baru saja risetnya tuntas di Mohenjo-daro, ilmuwan itu langsung dipanggil ke Azores untuk menemui bosnya. Ia sempat menginap selama dua hari di hotel, sebelum naik ke Aurum Latro begitu kapal pesiar ini transit di Papeete, ibukota kepulauan itu.
 
  “Jadi, apa saja yang sudah kau dapatkan di kota tua itu?” tanya Contralto. Tangannya sibuk mengaduk cappuccino yang disediakan anak buahnya.
 
  Malartha, yang duduk berhadapan dalam satu meja, memutar kunci gembok tas aluminium yang ia bawa. Ia kemudian membukanya, dan mengeluarkan tiga bola kristal. Masing-masing berwarna oranye, kuning, dan hijau.
 
  “Benda inilah yang kutemukan di antara reruntuhan Mohenjo-daro,” terangnya. 

  Contralto mengambil salah satu bola kristal dari atas meja. Ia mengamatinya dari jarak dekat, langsung di depan mata.
 
  “Hooh, rupanya bola kristal kuno yang berwarna-warni.” Bos mafia itu manggut-manggut.

  “Lho, kok ada asap yang berputar-putar di dalamnya? Isinya apa nih?”

  “Roh jahat.”

  Contralto sontak mengernyitkan dahi.

  “Hei, jangan bercanda dong.”

  “Aku serius,” balas Malartha menahan senyum.

  “Ah, tidak mungkin. Ini sangat tak masuk akal. Nonsense!” Contralto terus menggeleng tak percaya.

  “Hohoho. Percaya atau tidak, setidaknya itu yang dikatakan oleh tulisan di reruntuhan”

  Malartha menyerahkan selembar foto, yang menampilkan gambar plakat berisi simbol yang ia temukan disana.
 
  “Coba kau lihat gambar plakat ini. Apa saja yang bisa kau pahami dari simbol-simbol di dalamnya?”
 
  Contralto pun menajamkan penglihatan.

  “Hmmm, simbol ya? Disini ada sosok manusia yang memegang petir, umm, makhluk bertanduk di tengah lingkaran. Terus…”

  Mata si bos mafia terbelalak saat mulai menyadari pesan yang disampaikan lewat simbol-simbol itu.

  “Plakat ini....menceritakan pertarungan antara dewa dan monster!” teriaknya.

  “Lebih tepatnya, pertarungan antara Dewa Indra dan roh jahat.” terang Malartha membenarkan.
 
 “Aku sendiri tak tahu bagaimana persisnya. Namun, menurut analisaku, kira-kira begini jalan ceritanya”
 
  “Gerombolan roh jahat, entah dari mana asalnya, pernah menyerang Mohenjo-daro ribuan tahun yang lalu. Serangan itu menimbulkan banyak sekali korban tewas dan luka-luka, sebab manusia biasa bukanlah tandingan para roh jahat. Kekuatan di antara keduanya tidak seimbang”

  “Para penduduk yang ketakutan dan putus asa pun meminta bantuan Dewa Indra. Penderitaan yang mereka alami membuat sang dewa sedih sekaligus murka. Ia memutuskan untuk turun dari Kahyangan dan langsung menghadapi seluruh roh jahat”

  “Lalu?” Contralto mulai tertarik dengan kisah ini.

  “Pertarungan antara keduanya pun berlangsung sengit. Masing-masing kubu pantang mundur mengerahkan seluruh kemampuan. Berbekal kekuatan petir yang dimiliki, juga sifat-sifat dewata, Dewa Indra pun berhasil menaklukkan musuh”

  “Seperti yang bisa dilihat di plakat ini, para roh jahat yang sudah kalah langsung dikurung di dalam ‘penjara’ berbentuk lingkaran. Dan aku yakin lingkaran itu adalah bola kristal ini”

  Malartha mengakhiri cerita dengan menunjuk tiga benda berkilauan yang diletakkan rapi di atas meja. 


*****
  
  “Tunggu dulu. Jangan bilang kau percaya dengan dongeng semacam itu.” Contralto menatap arkeolog itu dengan curiga.

   Malartha tertawa.

  “Tentu saja tidak,” jawabnya tergelak.

  “Aku adalah seorang ilmuwan. Aku tak mungkin mempercayai sesuatu tanpa bukti yang kuat. Namun disisi lain, aku yakin kisah itu akan mendongkrak nilai jual bola kristal di pasar gelap”

  “Coba bayangkan. Jika kita mengungkit tentang roh jahat yang terperangkap di dalam bola kristal, apa yang akan dilakukan pembeli? Mereka pasti akan menawarnya dengan harga tinggi. Mau kita pasang harga satu miliar kana pun bakalan laris”

  “Masa sih? Nanti mereka malah menuduh bola kristal ini barang palsu.” Bos mafia itu tampak bimbang.

  “Kolektor benda bersejarah itu bukan orang bodoh. Hanya dari sentuhan atau sekali lihat, mereka mampu membedakan barang asli dan palsu dengan mudah,” kata Malartha berusaha meyakinkan.

  Contralto mengangkat bola kristal itu lagi. Kali ini, ia memandanginya dengan optimis dan penuh semangat.

  “Kau benar! Benda ini memang luar biasa. Meraviglioso!” pujinya gembira.
 
  “Hahahahaha!”

  Seisi ruangan itu mendadak gaduh oleh euforia dan suara-suara menyenangkan lainnya. Contralto mengangkat segelas sampanye ke atas, dan bersulang bersama anggota gangster untuk merayakan pencapaian mereka. Namun, Malartha tidak ingin terlalu hanyut dalam selebrasi. Sebab masih ada hal lain yang harus ia selesaikan. 

   “Aku sudah memenuhi semua keinginanmu, Tuan Contralto. Sekarang, mari kita bahas perjanjian kita,” ucap Malartha.

   Bos mafia itu melirik wajah sang ilmuwan. Tawa di wajahnya perlahan menghilang, berganti dengan senyum yang terkesan misterius.

   “Ah, maksudmu perjanjian bagi hasil itu ya?” tanyanya.

    Malartha mengangguk.

     “Jadi, berapa banyak yang kau inginkan?”

   “Selama satu tahun terakhir, aku sudah memberimu lima macam artefak kuno. Bila dijumlahkan, harga semuanya sekitar 500 juta kana,” hitung Malartha.
 
  “Menurut perjanjian, aku berhak atas komisi sebesar 40 persen. Artinya, total uang yang harus kuterima adalah 200 juta kana” 

    Prok prok prok prok

    Contralto tepuk tangan mendengar pemaparan yang sangat detail itu.

 “Seperti yang diharapkan dari mantan arkeolog nomor satu di Asia. Kau benar-benar memperhitungkan semuanya.” Ia kembali memberikan pujian.

  “Baiklah. Kebetulan sekali aku sedang membawa banyak uang di kamarku. Aldo, Silvio, tolong bantu teman kita ini untuk mengambil hadiahnya”

  “Siap!” 

  Kedua gangster segera menurut begitu diberi perintah. Akan tetapi....

  Klak klak!

  Alih-alih mengantarkan ke kamar yang dimaksud, mereka justru mengeluarkan pistol dan menodongkannya tepat ke kepala Malartha.
 
  “E-eh?!” Sang ilmuwan terkejut bukan kepalang melihat ancaman yang datang tak terduga.
 
  “A..apa-apaan ini?!”

  Ia berusaha meminta penjelasan Contralto atas tindakan kurang ajar anak buahnya. Namun, si bos mafia tak bergeming. Dengan santainya ia menyalakan korek dan membakar cerutu.

  “Kau tahu Malartha? Sebetulnya kau ini ilmuwan yang luar biasa.” Kata demi kata mulai meluncur lagi dari mulut Contralto.

  “Sayang sekali, kau terlalu serakah dan rakus”

  “Saking gila harta, kau rela bekerja sama dengan mafia, dan meminta keuntungan dari hasil penyelundupan ilegal. Sungguh menyedihkan”

  “T-tapi, kau sendiri yang pertama kali menawarkan bagi hasil kepadaku,” bela Malartha.

  “Pffft!”

  “Buahahahaha!"

  Para gangster itu terbahak-bahak menertawakan ‘kebodohan’ si ilmuwan.

  “Kau benar-benar naif ya. Kami ini mafia. Buat kami, janji harus ditepati kalo membawa keuntungan. Kalau tidak, ya untuk apa,” ucap Contralto bernada sinis.
 
  “Coba kau lihat baik-baik lambang organisasi kami. Di bawahnya ada semboyan Proditores Ubique Sunt—pengkhianat ada dimana-mana. Itulah motto hidup kami. Dengan berkhianat atau dikhianati, kami akan terus kaya dari bisnis ilegal. Hahahaha!”

  Deg!

   Nafas Malartha tercekat hingga tak mampu berkata-kata. Ia benar-benar sudah dipecundangi oleh pria botak yang ia bantu selama ini. Rasanya sakit sekali. Semua usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan seolah menguap begitu saja.
 
  Namun, Malartha sebenarnya sudah mengantisipasi hal ini. Ia sering mendengar desas-desus mengenai tingkah laku Contralto yang gemar ingkar janji dan melanggar sumpah sesuka hati. Sudah banyak rekan sejawat yang menghilang setelah terlibat dalam bisnis ilegal ini, dan sekarang ia jadi tahu alasannya.
 
  Dalam posisi terpojok, Malartha merasa inilah saatnya menjalankan rencana darurat yang telah ia siapkan.
 
   Kling kling kling

  Tanpa diketahui orang-orang di sekitar, ia masih menyimpan salah satu bola kristal di dalam tas silvernya. Yakni yang berwarna merah. Ketika kondisi lounge mulai berbahaya, bola kristal itu mengeluarkan suara denting yang hanya bisa didengar oleh Malartha seorang.

  “Ng? Kelihatannya wajahmu tenang sekali ya. Padahal sebentar lagi kau bakal mati lho,” kata Contralto mengintimidasi.
 
  Malartha pun mendengus pelan. Ia memilih cara nekat meski ketakutan setengah mati.

  “Apa kau benar-benar yakin ingin membunuhku?”

  “Huh?”

  “Jika aku mati, kau mungkin tak akan mendapatkan barang lain yang belum kutunjukkan. Kau pasti akan menyesal nanti karena….”

   Contralto terdiam sejenak.

   “H-hei, maksudmu…”

   Bos mafia itu tiba-tiba jadi salah tingkah setelah mendengarnya. Malartha terus menggertak dengan tatapan sok meremehkan. Anggota mafia yang lain pun geram melihatnya, dan ingin menghabisi nyawa si ilmuwan langsung di tempat. Namun, Contralto menahan mereka.

   “Tunggu dulu! Belum saatnya…” tegasnya, meminta anak buahnya agar menurunkan senjata.

   “Wah wah, sepertinya kau mulai tertarik ya,” ucap Malartha setengah menyindir.

   “Cukup basa-basinya! Jadi benda apa yang masih kau miliki?”
 
   Contralto tampak gelisah dan tidak sabaran. Hal ini cukup mengagetkan Malartha. Ia tak habis pikir bahwa gertakan itu ampuh mempermainkan emosinya. Ciri-ciri orang tamak memang begitu. Dimana ada keuntungan, disitu ia bakal sikat habis!

   “Kau lihat tas yang kubawa ini? Di dalam sini, aku menyimpan bola kristal lain yang belum kau lihat”

   “Eh? Jadi bola kristal itu bukan ada tiga?”

   “Tidak, melainkan empat”

  Contralto terhenyak. Astaga! Hampir saja ia melewatkan kesempatan emas untuk mendulang profit lebih banyak lagi. 

  “P-perlihatkan. Perlihatkan sekarang!” serunya.
 
  “Okelah kalau itu maumu.”

  Malartha memutar lima nomor kombinasi pada kunci gembok. Hanya perlu sekali tekan, tas itu langsung terbuka lebar. Bola kristal merah pun dikeluarkan dari dalam, lalu diangkat ke atas supaya bisa dilihat semua orang di lounge.

    Sriiiing

   Benda satu itu jauh lebih berkilau dibandingkan tiga bola kristal lainnya. Meski agak silau di mata, nilai estetika di dalamnya tidak berkurang. Contralto tak berkedip saat menatapnya. Otaknya penuh dengan berapa besar profit yang bisa diraih bila ia menjualnya.

  Akan tetapi, keindahan itu tak berlangsung lama. Sebab beberapa detik kemudian, Malartha membanting bola kristal itu ke lantai sekuat tenaga.

    Pranggg!!

   Benda kuno itu seketika hancur berkeping-keping menjadi butiran kaca. Tak mengira bakal jadi begini, Contralto sontak bangkit dari tempat duduk karena terperanjat.
 
   “Bastardo! Apa yang kau lakukan?!” umpatnya murka. 
 
  Sementara itu, gangster yang lain kembali mengarahkan moncong senjata ke arah Malartha. Bwoooosh! Belum sempat mengambil tindakan apapun, asap merah yang tumpah ruah dari bola kristal itu meledak, dan menyesaki seisi ruangan.

    Ohok! Ohok! Ohok!

  Semua orang yang ada di dalam mengalami sesak nafas dan terbatuk-batuk akibat kebanyakan menghirup asap. Beberapa di antaranya berguling-guling di lantai seraya memegangi dada dan leher mereka. 

   Merasa tidak tahan lagi, salah satu gangster membuka pintu lounge untuk mencari udara segar.

   Namun, cara ini justru menambah masalah baru. Angin laut yang berhembus kencang mempermudah asap itu untuk menyebar ke segala penjuru kapal. Alhasil, penumpang kapal lain yang tak berdosa ikut terkena dampaknya. 

   
*****

     Uhk! Uhk! Uhk!
  
   Para penonton yang sedang menikmati pertunjukan di ballroom pun bertumbangan dari tempat duduk. Anak-anak hingga orang dewasa meringis kesakitan menahan nyeri di dada dan kepala. Ruang kendali kapal juga tak kalah genting, sebab sang nakhoda dan beberapa awak kapal jatuh tak sadarkan diri dengan mulut berbusa.
 
   Wiu wiu wiu wiu wiu

  Sirine darurat mulai meraung-raung. Para tenaga medis mulai menyebar ke berbagai tempat, dan bergegas memberikan bala bantuan. Tim tersebut dipimpin oleh seorang dokter senior yang selama ini praktik di klinik kapal. Dengan mengenakan masker, ia turun langsung ke lapangan.

  “Ada apa ini?” tanya sang dokter kepada anak buahnya. Ia terperangah melihat pemandangan kapal yang mendadak kacau balau.

  “Saya tidak tahu pasti, dok. Tetapi barusan ada asap tebal aneh yang membuat para penumpang sesak nafas begini,” jawab seorang perawat.

  “Apakah sudah ketahuan dari mana sumbernya?”

  “Tim keamanan dan teknisi sudah pergi mengecek ruang mesin dan saluran bahan bakar. Namun mereka belum menemukan ada yang aneh disana”

  Ketika para petugas berjibaku memberikan pertolongan, salah satu penumpang yang sedang dirawat tiba-tiba berdiri. Bola matanya merah menyala-nyala. Nafasnya mengalir tak karuan disertai cucuran keringat yang deras di wajah.

  Salah seorang perawat, yang sedang menyiapkan obat, terkejut melihat pasiennya mendadak bangun.
 
  “Tuan?” panggilnya untuk memastikan.

  “Apakah anda baik-baik saja?”

   Pertanyaan itu tidak dijawab dengan perkataan. Melainkan oleh satu serangan mematikan, yang tidak dapat dicegah oleh sang perawat.

   Brakkkk!

  Tenaga medis malang itu seketika ambruk tak berdaya. Seolah belum cukup, tubuhnya dibanting berulang kali ke lantai hingga mengalami patah tulang di sekujur tubuh.

  Aksi tak disangka-sangka itu memicu kepanikan. Petugas keamanan dan awak kapal berusaha menghentikan kekejian tersebut dengan sekuat tenaga.

   “Hei! Hentikan!” seru mereka.

  Beramai-ramai mereka menahan tubuh pria paruh baya itu, serta mencoba meredakan amukannya. Usaha tersebut tidak mulus sama sekali, sebab pasien yang lain juga ikut mengamuk. Ciri-ciri fisiknya pun tak jauh beda, dan tak kalah seram. 
 
   Groaaaarrgh!

  Dalam hitungan menit, pasien yang menggila melonjak menjadi ratusan orang. Mereka mulai menghancurkan setiap barang dan melukai orang lain secara membabi buta. Petugas medis dan keamanan tak luput dari sasaran.
 
   “B-bagaimana ini dok?” 

   “A-apa yang harus kita lakukan?!”

  Para petugas yang kebingungan lantas bertanya kepada atasannya. Sang dokter menyadari bahwa mereka kalah jumlah dengan “penumpang gila” itu. Terlebih mereka juga tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk berhadapan langsung. Tak ada pilihan lain.
 
  “Untuk sementara, ayo kita mundur. Evakuasi diri kita dan pasien yang masih normal dan waras,” perintahnya.
  
   “Baik!”

   Dipandu oleh tenaga medis, para pasien bergerak menuju pintu keluar. Disaat yang sama, petugas keamanan memberikan perlindungan dengan menembak kawanan penumpang gila menggunakan gas bius dan peluru karet. Senjata tajam memang tidak digunakan demi mencegah jatuhnya korban jiwa.

  Rupanya mereka salah perhitungan. Setibanya di lorong yang mengarah ke bangsal perawatan, penumpang gila dari ruangan lain telah menunggu disana, dan langsung menyerang!

    Kyaaaaaa!

    Arggghhhh!

  Pemandangan selanjutnya sungguh menyayat hati. Tubuh para pasien dan petugas yang menjaga mereka dibunuh tanpa belas kasihan. Tak peduli korbannya sudah meminta ampun, para penumpang gila terus merangsek untuk menghabisi siapapun yang ditemuinya.
 
    Dalam sekejap, kapal pesiar mewah favorit pelancong itu berubah menjadi medan pembantaian.
 
  Darah bertumpahan dimana-mana, mengenai tembok, atap, jendela, dan sebagainya. Seolah tiap barang disana menjadi saksi bisu nasib tragis para korban. Semua orang yang berada di atas kapal tewas mengenaskan. Tak ada yang selamat.

  Peristiwa memilukan ini kemudian dikenal sebagai “Tragedi Kapal Pesiar Berdarah”. Insiden yang kelak memicu bencana paling mematikan dalam sejarah umat manusia.


    - bersambung -


------

Halo, guys!

🔥 Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?

Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨

Bundle terbaru sudah tersedia di Karyakarsa

⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutkan ceritanya
🔥 Temukan apa yang terjadi setelah bagian terakhir!

Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇

Karyakarsa:  https://bit.ly/MSKaKa


Jumat, 29 Mei 2026

Soft Power: Strategi Politik Memikat Negara Lain


Ilustrasi Soft Power | AI Generated

Pernah nggak sih kalian berpikir, kenapa ada negara-negara yang sangat kuat di bidang kebudayaan, sampai menarik perhatian jutaan orang dari seluruh dunia?

Contohnya saja Korea Selatan (Korsel). Mereka bukan negara yang luas. Jika dibandingkan pulau Jawa pun, ukurannya masih lebih kecil. Namun, pengaruhnya sangat besar di panggung internasional.

Hal ini tercermin dari Hallyu Wave, sebuah fenomena kultural yang meledak selama dua dekade terakhir. Produk-produk budaya dari Korsel, mulai dari musik, film, hingga drama televisi laris manis di pasaran. 

Mereka juga berhasil menjadi kiblat tren anak muda masa kini, yang tergila-gila dengan skin care, kosmetik, dan gaya berpakaian (fashion) ala Korea. 

Indonesia adalah salah satu basis penggemar terbesar bagi K-Pop, julukan untuk budaya populer Korsel. Sejumlah perusahaan pun berlomba-lomba menjadikan artis Korsel sebagai brand ambassador (BA) demi mendongkrak citra produk atau jasa yang mereka tawarkan. 


Salah satu produk kosmetik Indonesia yang menggunakan BA artis Korsel | Azarine

Bergeser sedikit ke timur, Jepang pun turut dikenal sebagai raksasa budaya global. Bahkan sudah dimulai jauh sebelum Korsel, tepatnya pada masa Perang Dunia II. 

Pada saat itu, militer Jepang menggunakan animasi untuk menyebarkan propaganda nasionalisme, juga sentimen anti Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Setelah perang berakhir, animasi pun berubah jadi produk komersial yang lambat laun menjelma menjadi anime. 

Siapa sih yang nggak kenal dengan Tetsuwan Atom (Astro Boy), Doraemon, Dragon Ball, Sailor Moon, One Piece, dan Naruto? Itulah judul-judul anime terkenal yang pernah mengisi masa kecil kita. 

Saking tingginya popularitas anime, ia menjadi daya tarik utama festival budaya Jepang yang digelar di berbagai negara. Hingga akhirnya, anime menjadi unsur yang tak terpisahkan dari identitas Jepang, meski tergolong baru. 


Perkembangan art style (gaya seni) anime dari tahun ke tahun | Nihon Narratives

Sekilas, budaya pop Korsel dan Jepang tampak berbeda, dan hal ini wajar karena setiap negara punya ciri khas masing-masing. 

Namun ada satu kesamaan di antara keduanya. Yaitu dukungan negara yang kuat.

Hallyu Wave lahir dari kebijakan Presiden Kim Dae-jung setelah terjadinya Krisis Finansial Asia 1997, yang membuat industri Korsel bangkrut dan 2 juta orang kehilangan pekerjaan. 

Menurut Kim, industri manufaktur nggak boleh jadi satu-satunya tumpuan. Harus ada mesin pertumbuhan ekonomi baru yang punya nilai tambah tinggi dan tak terlalu bergantung pada sumber daya alam.

Mereka pun mulai mencari sektor alternatif, dan pilihan jatuh ke industri kreatif. 

Pemerintah Korsel mengucurkan dana raksasa ke rumah produksi dan manajemen talenta, serta membangun ekosistem kreatif yang aman dan terintegrasi lewat sejumlah undang-undang.

Sedangkan pemerintah Jepang mulai melihat potensi industri kreatif mereka yang besar memasuki abad ke-21. 

Pada tahun 2002, Jepang meluncurkan Cool Japan, sebuah program ambisius untuk menyatukan pekerja seni, kreator, perusahaan hiburan, dan lembaga publik buat menyebarkan budaya Jepang ke seluruh dunia. Termasuk budaya kontemporer. 

Demi mendukung program ini, pemerintah Jepang membentuk Cool Japan Fund, yang dirancang sebagai wadah dana investasi publik-swasta untuk industri kreatif dan event-event kebudayaan Jepang di seluruh dunia. 

Jika kalian pernah datang ke event seperti Jak-Japan Matsuri, Gelar Jepang UI (GJUI), Djakarta Ennichi, D'Jafu dan sejenisnya, nah biasanya panitia diberikan dana sponsor dari Cool Japan Fund dan afiliasi mereka. Sebagai gantinya, perusahaan Jepang leluasa membuka booth dan promosi produk mereka di acara itu.

Makanya, saya sering menemukan booth Yamaha, Toyota, Sharp, atau Hitachi di event budaya Jepang. Padahal semua perusahaan itu gak ada hubungan dengan kebudayaan :)

Sejauh ini, kebijakan Korsel dan Jepang sukses menarik perhatian masyarakat dunia terhadap budaya mereka. Menariknya, efeknya tak hanya ke sektor ekonomi atau sosial budaya saja. Politik juga termasuk. 

Ketika Jepang bersitegang dengan Cina dalam isu Taiwan, ucapan dukungan terhadap Jepang mengalir dari fanbase anime, film, dan budaya kontemporer. Mereka bahkan pasang badan berdebat dengan netizen Cina di media sosial. 

Di saat yang sama, Korsel juga dapat support dari para fans K-Pop saat ancaman dari Korea Utara (Korut) meningkat. Ada juga netizen yang sampai memberi semangat kepada artis favorit mereka yang harus ikut wajib militer. 

Kalo sudah begini, budaya kontemporer dan industri kreatif telah menjelma menjadi soft power bagi kedua negara. 

Dicetuskan pertama kali oleh Joseph Nye, seorang ahli politik dan diplomat AS, soft power adalah kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara untuk mempengaruhi pihak lain dengan daya tarik dan persuasif. 

Sebelumnya, negara cenderung memakai strategi hard power, yang menekankan pada cara-cara represif dan memaksa, untuk mencapai tujuan mereka.

Contohnya AS pada masa perang dingin, yang mengerahkan armada militer ke Korea, Vietnam, dan Afghanistan demi membendung pengaruh komunisme. Begitu pun Uni Soviet (Rusia) yang menginvasi Cekoslowakia untuk menggulingkan pemerintahan reformis Alexander Dubček pada tahun 1968.

Biarpun agenda nasional tercapai, hard power menghabiskan sumber daya yang sangat besar, dan merusak kehidupan masyarakat. Belum termasuk jutaan korban yang tewas atau menderita seumur hidup. 

Soft power dinilai sebagai solusi alternatif, karena nggak melibatkan kekerasan, serta menjunjung tinggi perdamaian dan kolaborasi yang sehat.

Menurut Nye, keberhasilan soft power suatu negara sangat bertumpu pada tiga pilar, yaitu budaya (culture), nilai-nilai politik (political values), dan kebijakan luar negeri (foreign policies). 

-----

1. Budaya


Budaya bersih di Jepang | Web Japan 

Budaya yang dimaksud oleh Nye disini bukan sekadar tarian tradisional, pakaian adat, atau warisan sejarah, melainkan semua ekspresi hidup suatu masyarakat yang dapat menimbulkan ketertarikan: musik, film, makanan, bahasa, sastra, pendidikan, gaya hidup, teknologi kreatif, hingga budaya populer.

Budaya menjadi soft power ketika orang luar melihatnya sebagai sesuatu yang menarik, keren, indah, inspiratif, atau layak ditiru. Misalnya, suatu negara bisa membuat orang asing tertarik belajar bahasanya karena film, musik, anime, drama, kuliner, desain, atau gaya hidupnya. 

Dalam situasi seperti ini, negara tersebut tidak perlu memaksa siapa pun. Orang datang sendiri karena merasa tertarik.

Namun, budaya tidak selalu otomatis menghasilkan soft power. Budaya hanya menjadi sumber kekuatan jika diterima secara positif oleh pihak lain. Nye menekankan bahwa budaya berfungsi sebagai soft power di tempat-tempat di mana budaya itu dianggap menarik.

Artinya, budaya yang kuat di dalam negeri belum tentu menarik di luar negeri. Sebaliknya, budaya yang dikemas dengan baik, mudah diakses, dan memiliki nilai universal bisa menjadi pintu masuk bagi pengaruh yang lebih luas.

2. Nilai Politik

Sumber kedua adalah political values atau nilai-nilai politik. Ini mencakup prinsip yang diklaim dan dijalankan oleh suatu negara, seperti demokrasi, keadilan, kebebasan, hak asasi manusia, kesetaraan, transparansi, toleransi, atau penghormatan terhadap hukum.

Namun, ada syarat penting: nilai politik hanya menjadi soft power jika negara tersebut benar-benar hidup sesuai dengan nilai yang diklaimnya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. 

Nye menekankan bahwa nilai politik menjadi sumber soft power ketika suatu negara mampu “live up to them”—menjalankan nilai itu secara nyata, bukan hanya menjadikannya slogan.

Di sinilah letak tantangannya. Sebuah negara boleh saja mempromosikan demokrasi, toleransi, atau hak asasi manusia. Tetapi jika di dalam negerinya terjadi diskriminasi, korupsi, represi, atau ketidakadilan yang terlihat jelas oleh dunia, maka nilai politik itu kehilangan daya tarik. Bahkan, ia bisa berbalik menjadi sumber ketidakpercayaan.

Dengan kata lain, soft power tidak bisa dibangun hanya melalui kampanye citra. Ia membutuhkan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Negara yang ingin dipandang menarik harus memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang ia promosikan memang dijalankan dalam kehidupan nyata.

Dalam konteks populer, nilai politik adalah “karakter” sebuah negara. Budaya mungkin membuat orang tertarik, tetapi nilai politik membuat orang bertanya: “Apakah negara ini bisa dipercaya? Apakah prinsipnya konsisten? Apakah ia layak dijadikan contoh?”

3. Kebijakan Luar Negeri

Ketiga adalah foreign policies atau kebijakan luar negeri. Ini berkaitan dengan bagaimana suatu negara bertindak di dunia internasional: cara ia berdiplomasi, membantu negara lain, menyelesaikan konflik, merespons krisis, membangun kerja sama, atau menggunakan kekuatan militernya.

Menurut Nye, kebijakan luar negeri menjadi sumber soft power ketika negara lain melihatnya sebagai legitimate dan memiliki otoritas moral. Dengan kata lain, dianggap sah, adil, masuk akal, dan tidak semata-mata egoistis.

Misalnya, bantuan kemanusiaan, diplomasi perdamaian, kerja sama pendidikan, komitmen terhadap isu lingkungan, atau dukungan terhadap pembangunan bisa meningkatkan soft power jika dipersepsikan tulus dan bermanfaat. 

Sebaliknya, kebijakan luar negeri yang dianggap munafik, agresif, sepihak, atau melanggar norma internasional dapat merusak soft power, meskipun negara tersebut memiliki budaya populer yang sangat kuat.

Inilah sebabnya soft power sangat bergantung pada persepsi internasional. Negara mungkin merasa kebijakannya benar, tetapi yang menentukan daya tariknya adalah bagaimana kebijakan itu dilihat oleh masyarakat dan pemerintah negara lain.

Dalam bahasa sederhana, kebijakan luar negeri adalah “perilaku” sebuah negara di hadapan dunia. Jika perilakunya dianggap adil dan dapat dipercaya, pengaruhnya bertambah. Jika dianggap arogan atau tidak konsisten, daya tariknya menurun.

-----

Singkatnya, ketiga pilar ini saling berkaitan satu sama lain. Budaya dapat membuka pintu ketertarikan. Nilai politik memberi dasar kepercayaan. Kebijakan luar negeri menentukan apakah negara itu dipandang bertanggung jawab atau tidak.

Sebuah negara bisa sangat kuat secara budaya, tetapi kehilangan soft power karena nilai politik dan kebijakan luar negerinya dianggap bermasalah. \

Sebaliknya, negara yang tidak terlalu dominan secara budaya tetap bisa memiliki soft power jika nilai politiknya dihormati dan kebijakan luar negerinya dianggap konstruktif.

Jadi, soft power bukan hanya soal promosi budaya, festival, film, makanan, atau pariwisata. Itu hanya satu bagian. Dalam kerangka Nye, soft power yang kuat membutuhkan kombinasi antara daya tarik budaya, kredibilitas nilai, dan legitimasi kebijakan.

Tadi kita sudah membahas mengenai Jepang dan Korsel. Apakah ada negara lain yang juga memanfaatkan soft power?

Jelas ada. Bahkan, soft power mereka sudah terang-terangan dipakai dalam politik praktis. 

Pada masa pemerintahan Barack Obama, terutama ketika Hillary Clinton menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS, muncul gagasan bernama 21st Century Statecraft.

Secara sederhana, 21st Century Statecraft adalah cara AS menyesuaikan diplomasi dengan dunia digital. 

Diplomasi tidak lagi hanya dilakukan lewat pertemuan antarpejabat, kedutaan besar, atau perjanjian resmi, tetapi juga lewat internet, media sosial, teknologi, komunitas sipil, kampanye digital, dan opini publik global.

Pada masa pemerintahan Barack Obama, terutama saat Hillary Clinton menjadi Menteri Luar Negeri AS, gagasan ini dipakai untuk menunjukkan bahwa Amerika ingin tetap berpengaruh di dunia baru yang semakin terkoneksi. 

AS tidak hanya ingin dikenal sebagai negara dengan militer dan ekonomi kuat, tetapi juga sebagai simbol demokrasi, kebebasan internet, inovasi teknologi, pendidikan tinggi, dan masyarakat terbuka.

Inggris menggunakan bahasa, pendidikan, universitas, British Council, musik, film, dan budaya populer. Orang yang belajar bahasa Inggris, kuliah di Inggris, atau mengikuti program budaya Inggris bisa membangun kedekatan jangka panjang dengan negara tersebut. 

Hal ini membuat pengaruh Inggris tetap besar, meskipun imperiumnya sudah lama berakhir.

Prancis memakai bahasa, seni, mode, kuliner, sastra, filsafat, dan lembaga seperti Alliance Française. Mereka ingin tetap dilihat sebagai pusat budaya, pemikiran, dan gaya hidup dunia. 

Jadi, pengaruh Prancis tidak hanya datang dari politik dan ekonomi, tetapi juga dari citra sebagai negara berbudaya tinggi.

Qatar memakai Al Jazeera, diplomasi mediasi, dan olahraga. Piala Dunia 2022 menjadi contoh besar bagaimana Qatar menggunakan event olahraga untuk memperkenalkan diri sebagai negara kecil yang modern, kaya, dan penting secara geopolitik.

Turki memakai drama televisi, sejarah Ottoman, budaya Islam-Turki, pariwisata, dan lembaga budaya. Drama Turki yang populer di banyak negara ikut memperkuat citra Turki sebagai negara yang punya sejarah besar, budaya kuat, dan posisi penting di dunia Muslim.

-----

Kesimpulannya, soft power bukan sekadar promosi budaya. Dalam politik internasional, soft power dipakai untuk membangun citra, memengaruhi opini publik, memperluas jaringan elite, menarik wisatawan dan investor, serta memperkuat posisi tawar negara.

Di abad ke-21, perebutan pengaruh antarnegara tidak hanya terjadi lewat militer, ekonomi, atau diplomasi resmi. Perebutan itu juga terjadi lewat film, musik, bahasa, media sosial, beasiswa, kampus, event olahraga, pusat budaya, dan narasi digital.

Dengan kata lain, soft power adalah cara negara membuat dunia berpikir: “Negara ini menarik, berpengaruh, dan layak diajak bekerja sama.”

Selasa, 19 Mei 2026

Mimpi Dubai di Bali


Wacana pembangunan international financial center di Bali menuai pro dan kontra |  AI Generated


Akhir pekan kemarin, saya baru saja membaca berita yang membuat dahi berkerut. Mungkin bukan cuma saya yang merasakan, namun seluruh masyarakat Indonesia.

Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pihaknya sedang berencana untuk menyulap Pulau Serangan, yang masuk wilayah Bali, sebagai sentra keuangan (financial center) bertaraf internasional. 

Tidak tanggung-tanggung, pemerintah juga ingin mengembangkan kawasan tersebut agar bisa menyaingi Dubai!

Saya tidak tahu apa sebenarnya yang muncul di benak pejabat di Jakarta kali ini. Maksud saya, rencana ini terdengar revolusioner sekaligus ambisius. Membangun sebuah international finance center yang terintegrasi dengan sistem keuangan global, sesuatu yang jarang dipikirkan oleh para petinggi Indonesia. 

Masalahnya, kenapa harus Bali? 

Indonesia adalah negara yang luas, terdiri atas 17.000 pulau lebih. Masih banyak daerah lain yang bisa dijadikan pilihan untuk membangun sentra keuangan. Apalagi, pemerintah telah mengembangkan Batam, sebuah pulau tepat di seberang Singapura, sebagai zona ekonomi khusus sejak tahun 1970-an.

Mengapa tidak dilanjutkan saja pembangunan di Batam? Secara geografis, mereka lebih strategis dari Bali. Lokasinya tepat di jalur perdagangan tersibuk di dunia. Berbeda dengan Bali yang lokasinya di "pedalaman" kepulauan Indonesia. Jarang sekali kapal dagang yang melintas di sana. 

Pada umumnya, sebuah financial center dibangun di kawasan hub perdagangan global yang sudah mapan. 

Hong Kong, misalnya, sebelum jadi pusat keuangan Asia adalah pelabuhan yang didirikan oleh Inggris untuk menjual komoditas dari Cina ke pasar internasional. Singapura, yang waktu itu juga koloni Inggris, adalah pelabuhan transit dari Asia Timur ke seluruh penjuru dunia. 

Sedangkan Dubai adalah tempat berlabuh kapal-kapal yang mengangkut minyak dan gas (migas) dari kawasan teluk Persia. Kota ini juga sudah kaya raya dari ekspor migas selama puluhan tahun.

Bali jelas tidak memenuhi kriteria tersebut. Sejak awal, Bali dikembangkan sebagai destinasi pariwisata bertaraf internasional, jauh sebelum Indonesia berdiri. Yang ditawarkan adalah budaya dan peradaban yang berakar dari filosofi warisan leluhur, sehingga tak bisa ditemui di mana pun. 

Benar sekali, daya tarik Bali terletak pada kesenian, arsitektur, dan ritual yang menjadi nafas kehidupan sehari-hari. Bukan hanya keindahan alam seperti yang orang luar kira. 

Selain itu, lokasi proyek ini juga ada di Pulau Serangan, yang merupakan area suci bagi warga Bali. Disana berdiri Pura Sakenan yang didirikan untuk Sakyamuni (Buddha). 


Pura Sakenan  | Basabali.org


Kendati mayoritas orang Bali beragama Hindu, ajaran Buddha memiliki pengaruh yang sangat besar. 

Beberapa tokoh besar di Bali seperti Empu Kuturan dan Prabu Udayana adalah pemeluk Buddha Mahayana. Keduanya memiliki peran signifikan dalam membangun pondasi peradaban Bali yang bertahan sampai hari ini

Empu Kuturan adalah seorang pendeta suci yang diundang Prabu Udayana, raja Bali dari Dinasti Warmadewa, untuk menyelesaikan konflik antara sembilan sekte agama, yang berpotensi memicu perpecahan di masyarakat. Buddha adalah salah satu dari kesembilan sekte itu.

Sang pendeta pun mengumpulkan perwakilan dari tiap sekte, dan menggelar konferensi Pura Gunung Goak, yang sekarang berlokasi di Gianyar, Bali. Lewat pertemuan tersebut, sembilan sekte tersebut sepakat untuk melebur jadi satu, melahirkan agama Hindu Bali yang kita kenal saat ini.

Untuk mengenang peristiwa ini, Pura Gunung Goak berubah menjadi Pura Samuan Tiga. Empu Kuturan juga membangun pura baru untuk sang Buddha, yang kelak berkembang menjadi Pura Sakenan.

Hubungan kedua agama yang saling melengkapi telah menciptakan budaya spiritualitas yang unik, dan Pura Sakenan adalah simbol yang mempertegas hal itu.

Saya pun penasaran, apakah pejabat yang merancang Bali sebagai the next Dubai memahami seperti apa Bali sesungguhnya. Mereka pikir, popularitas Bali dan koneksi luas dengan dunia internasional bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, yang malah bertentangan dengan jati diri Bali sesungguhnya. 

Apakah dengan membangun financial center ala Dubai, semakin banyak investor akan datang ke Bali?

Belum tentu!

Sebuah financial center kelas dunia membutuhkan instrumen hukum dan regulasi yang jelas. 

Jauh sebelum kehadiran lembaga keuangan global, pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengamandemen konstitusi mereka. Tujuannya agar Dubai International Financial Center (DIFC) dapat menerapkan sistem peradilan common law, yang diterapkan di Inggris dan negara-negara anggota persemakmuran. 

Mengapa common law dipilih? Karena sistem peradilan ini memberikan kepastian hukum yang lebih besar lewat prinsip stare decisis (mengikuti preseden). Artinya, hakim wajib memeriksa apakah perkara sejenis pernah diadili atau tidak. Dengan cara ini, putusan yang akan dijatuhkan cenderung konsisten, sebab ada referensi dari putusan terdahulu. 

Demi mendukung penerapan common law, UEA mengundang hakim serta ahli hukum dari Inggris, Singapura, Hong Kong, dan Selandia Baru. Tentu mereka menyiapkan dana besar untuk membayar pakar-pakar asing itu.

Pemerintah Indonesia memang berjanji ingin menerapkan common law di area financial center yang akan dibangun. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada pembahasan apapun di tingkat legislatif. Terakhir kali Indonesia melakukan amandemen konstitusi pada tahun 2002, empat tahun setelah jatuhnya rezim Orde Baru pimpinan Soeharto. 

Berhasil atau tidak, itu persoalan lain. 

Di Indonesia, peraturan seringkali tumpang tindih. Regulasi di tingkat pusat dan daerah kerap tak sejalan, dan membingungkan investor dan pengusaha. 

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) pernah membuat sistem Online Single Submission (OSS), yang memungkinkan investor untuk mengurus segala perizinan di tingkat pusat, bukan daerah. Sayangnya, hal ini belum cukup, sebab Indonesia adalah negara yang sangat beraneka ragam.

Indonesia memiliki sekitar 1.340 etnis, tersebar di wilayah yang membentang sejauh 5.245 kilometer. Teritori yang begitu luas menciptakan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang tak terhitung jumlahnya.

Oleh karena itu, setiap daerah diberikan hak otonomi untuk membuat regulasi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Meski demikian, Indonesia tidak berbentuk negara federal, melainkan kesatuan. Artinya, Jakarta tetap menjadi pengambil keputusan penting dan krusial. Itulah alasan mengapa sistem OSS ini bisa tercipta. 

Masalahnya, pemerintah pusat seringkali tidak paham dengan kondisi di daerah. Begitu pula dengan pengambil keputusan, yang seringkali bukan putra daerah, atau mungkin belum pernah datang ke daerah itu. 

Parahnya lagi, lembaga perizinan di Jakarta cenderung kurang berkoordinasi pemerintah daerah saat memberikan izin.

Alhasil, banyak investor tidak bisa membangun usaha walau sudah mengantongi izin dari pusat, karena lokasinya berada di atas lahan adat, zona konservasi, atau area sakral yang dilindungi oleh masyarakat selama ratusan tahun. Hal semacam ini kerap terjadi di Bali, dan memicu ketegangan warga dengan investor. 

Penolakan warga terhadap proyek resort milik investor asing di Bugbug, Karangasem, Bali | Detik.com


Tantangan lainnya adalah pungutan liar (pungli)

Biaya menjalankan bisnis di Indonesia sering membengkak di luar rencana bukan hanya karena operasional semata, namun juga maraknya pungli. Biasanya, aktivitas ini digerakkan oleh preman-preman, yang berkongsi dengan aparat setempat.

Skema yang dimainkan pun cerdik. Mereka mendirikan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang legal di mata hukum. 

Dengan memosisikan diri sebagai "lembaga swadaya masyarakat", mereka pun meminta uang kepada perusahaan-perusahaan di wilayah tersebut sebagai "dana pemberdayaan masyarakat". Jika ormas tersebut ikut berkontribusi menjaga keamanan, mereka pun akan meminta iuran keamanan juga. 

Namun, tak ada yang lebih pusing dibandingkan saat hari raya keagamaan tiba. Ormas-ormas tersebut akan meminta perusahaan untuk memberikan tunjangan hari raya (THR). Biasanya nominal yang diberikan sekitar Rp 1 - 5 juta rupiah. 

Jika di suatu wilayah terdapat 10 - 12 ormas yang meminta THR, maka dana yang dikeluarkan mencapai Rp 12 - 60 juta rupiah. Angka yang besar bagi perusahaan di Indonesia. 

Menariknya, praktik semacam ini jarang ditemui di Bali. Kuatnya posisi desa adat dan institusi tradisional disinyalir menjadi faktor minimnya praktik pungli di Bali. Dan mungkin saja hal ini jadi salah satu pertimbangan pemerintah pusat untuk menyulap Bali sebagai hub investasi dan keuangan.

Akan tetapi, bisnis finansial sangat bertumpu pada trust (kepercayaan). Selama regulasi tidak dibenahi dan pungli dibiarkan merajalela, maka Indonesia tak akan pernah membangun financial center berskala internasional, walaupun memanfaatkan nama besar Bali sekalipun.

Siapa yang menanggung akibatnya? 

Jelas masyarakat Bali, yang kehilangan pulau dan area suci yang diwariskan oleh para leluhur selama berabad-abad. 









 



Selasa, 12 Mei 2026

Menuju Dunia Multipolar?


Dominasi AS dan Mewujudkan Dunia Multipolar | AI Generated


Sejak perang melawan Iran berkecamuk, Amerika Serikat (AS) dan Israel tampak mendominasi jalannya pertempuran.

Dalam sebulan terakhir, puluhan jet tempur dan pesawat militer mereka bebas keluar masuk wilayah Iran tanpa ada yang bisa mencegat. Puluhan target dibom habis-habisan. Infrastruktur publik, dari jembatan sampai kilang minyak pun porak poranda. 

Sejumlah pejabat tinggi Iran tewas, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, dan Sekretaris Dewan keamanan Iran Ali Larijani. 

Banyak yang menduga tewasnya para petinggi akan membuat Iran jatuh dalam waktu singkat. Dalam bidak catur, jika raja dan petinggi berhasil dikalahkan, maka permainan otomatis selesai. 

Namun, ternyata perang tidak semudah strategi di atas papan hitam putih. 

Iran masih terus bertahan, meskipun angkatan udara dan laut mereka hancur lebur. Didukung oleh drone bunuh diri (Shaheed) dan pasokan rudal cadangan, mereka mampu menembus wilayah Israel dan memaksa para penduduk untuk berlindung di bunker. 

Iran bahkan sempat menembak jatuh pesawat tempur F-35 milik AS dan nyaris menangkap pilotnya. Beruntung, AS segera mengirimkan bantuan dan berhasil menyelamatkan penerbang mereka.

Akan tetapi, tak ada yang berdampak signifikan melebihi penutupan Selat Hormuz. 

Selama perang, Iran getol mengintimidasi kapal dagang dan tanker yang melintas di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia tersebut. Akibatnya, distribusi energi dari Timur Tengah jadi terganggu. 

Padahal, negara-negara Asia dan Eropa sangat bergantung dengan pasokan energi dari Timur Tengah, terutama minyak. Sekali saja terganggu, maka efeknya bisa menyebar kemana-mana. 

Krisis di Hormuz telah menyebabkan masalah energi global.

Di Filipina, kelangkaan suplai minyak memaksa warga untuk berjalan kaki ke kantor dan sekolah, dan membuat harga barang meroket. 

Sementara Thailand menghadapi panic buying BBM, dimana masyarakat menyerbu SPBU sembari membawa jerigen untuk mengamankan pasokan bensin untuk diri sendiri. 

Indonesia pun ikut menaikkan harga minyak, khususnya Dexlite dan bahan bakar non subsidi yang naik hampir Rp 10 ribu. 

Dampaknya pun langsung terasa ke harga barang kebutuhan, yang distribusinya sangat bergantung pada kendaraan bermotor. 

Sejumlah pedagang dan ritel sudah menaikkan harga sayuran, daging ayam, ikan, dan produk pangan lainnya. Orang yang terbiasa belanja harian pasti menyadari bahwa uang mereka cepat habis hanya untuk membeli sembako akhir-akhir ini.

Situasi ini menegaskan bahwa posisi Selat Hormuz masih sangat vital, dan siapa pun yang berhasil mendominasi kawasan itu akan jadi pemain penting ekonomi dunia. Dan suka tidak suka, Iran sejauh ini mampu memainkan peran mereka dengan baik, meski dibombardir dari segala penjuru. 


Sebuah drone Iran menghantam kapal di Selat Hormuz  | Al Arabiya


Itulah kenapa, mereka berani mengambil kebijakan tak terduga; mewajibkan negara lain untuk membeli minyak mereka dengan Yuan Cina. 

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Dollar AS ditetapkan sebagai alat pembayaran utama perdagangan internasional. Semua transaksi antar bangsa hingga perhitungan GDP sekalipun dilakukan dengan Dollar AS. Begitu juga cadangan devisa yang dimiliki oleh suatu negara, sudah pasti dalam bentuk Dollar AS. 

Skema keuangan ini sangat menguntungkan AS, sebab mereka dapat mencetak uang sebanyak mungkin tanpa khawatir inflasi atau Dollar AS akan kehilangan nilainya. Setiap penukaran mata uang ke Dollar AS langsung masuk ke cadangan devisa nasional mereka.

Tak heran, AS mampu membiayai perang dan operasi militer luar negeri mereka yang super mahal meskipun performa ekonomi belakangan ini kurang memuaskan. Pada kuartal akhir 2025 misalnya, pertumbuhan PDB AS hanya sebesar 0,5% (yoy). Bukan pencapaian yang bagus untuk negara dengan ekonomi terbesar di dunia. 

Dengan "menyingkirkan" Dollar AS, Iran jelas ingin membuktikan pada dunia bahwa transaksi internasional dapat dilakukan tanpa campur tangan Paman Sam. Harapan mereka, negara lain akan terinspirasi untuk meninggalkan Dollar AS, dan memberikan pukulan besar bagi struktur finansial AS. 

Mengapa Iran memilih Yuan Cina sebagai alternatif? 

Pertama, mata uang Iran sudah sangat lemah akibat sanksi internasional dan salah urus ekonomi selama bertahun-tahun. 

Berdasarkan data per Mei 2026, 1 Dollar AS sama dengan 1,3 juta Rial Iran. Hal ini membuat mata uang Iran seperti tak ada harganya lagi, dan menjadi salah satu faktor meletusnya aksi protes masyarakat pada Januari - Februari 2026 lalu. 

Kedua, Cina merupakan pesaing utama AS. Hanya dalam waktu kurang dari tiga dekade, mereka bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, satu peringkat di bawah AS. 

Perkembangan cepat ini didukung oleh kapasitas industri yang besar dan efisien. Hampir seluruh produk manufaktur hingga pertanian di dunia adalah buatan Cina, sebab mereka memosisikan diri sebagai "pabrik raksasa" yang menerima order produksi massal dari seluruh dunia. Termasuk perusahaan AS macam Apple, Dell, HP, dan sebagainya. 

Kemajuan Cina telah dianggap menjadi ancaman bagi AS, khususnya di bawah pemerintahan Donald Trump. Perang dagang hingga kenaikan tarif ratusan persen atas produk buatan Cina membuat hubungan kedua negara memanas.

Belum lagi masalah perbedaan ideologi, dimana Cina menganut sosialis komunis yang cenderung otoriter, sementara AS menjunjung demokrasi liberal. Isu pembungkaman oposisi, korupsi, hingga penindasan etnis dan agama minoritas kerap dihembuskan oleh 

Seperti pepatah "musuh dari musuhku adalah temanku", kesamaan nasib "dimusuhi" oleh AS membuat Cina menjadi sekutu potensial di mata Iran.

Sebenarnya kedua negara sudah menjalin hubungan yang cukup akrab. Iran memasok minyak untuk Cina dengan harga murah. Sebaliknya, Cina memberikan peralatan militer dan teknologi mutakhir untuk sistem pertahanan serta infrastruktur publik.

Meski begitu, Cina kelihatan masih ragu untuk membantu Iran sepenuhnya. Buktinya, ketika AS-Israel menyerbu Iran hingga menewaskan Khamenei, Cina tak mengirimkan armada maupun suplai senjata tambahan. Respon yang diberikan sekedar mengecam di forum internasional. Tak lebih dari itu. 

Makanya, penetapan Yuan sebagai alat transaksi minyak mungkin jadi manuver Iran buat membujuk Cina agar lebih aktif mendukung Iran. 

Berhasil atau tidak, belum ada yang tahu. Namun jika sukses, pengaruh AS disinyalir akan lebih lemah dari sebelumnya, dan berpotensi mendorong terwujudnya dunia multipolar. Dunia yang tidak didominasi oleh satu negara adidaya. 


BRICS, sebuah aliansi multilateral yang berambisi membangun dunia multipolar | Muchlis Jr


Dunia multipolar sudah sering digaungkan oleh pakar geopolitik sejak lama. Menurut mereka, cengkraman AS atas tatanan global berada pada level yang tidak sehat, hingga seolah menjadi satu-satunya kekuatan tunggal yang bisa mendikte arah kebijakan dunia. 

Seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan kehadiran AS yang kian aktif pasca insiden 7 Oktober, narasi dunia multipolar kembali mencuat, terutama oleh sekutu-sekutu Iran. 

Presiden Rusia Vladimir Putin, misalnya, menyatakan bahwa pengaruh AS yang "melemah" harus menjadi kesempatan emas untuk membangun dunia multipolar. Kehadiran aliansi alternatif seperti BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), menurut Putin, akan menjadi pilar utama tatanan baru yang mulai bangkit. 

Xi Jinping, Presiden Cina juga punya pandangan serupa. Dalam salah satu pidatonya di World Economic Forum (WEF), ia mendorong multilateralisme dan globalisasi ekonomi yang adil tanpa satu kekuatan adidaya. 

"Pilih dialog daripada konfrontasi, inklusivitas daripada eksklusi, dan menentang segala bentuk unilateralisme, proteksionisme, hegemoni, serta politik kekuasaan," ucap Xi. 

Miliaran dollar sudah dikeluarkan untuk mengimbangi dominasi AS, sebagian besar mengucur ke BRICS dan aliansi multilateral non-AS lainnya. Namun, apakah dunia multipolar tersebut akan segera terwujud? 

Nyatanya, jalan untuk menumbangkan hegemoni AS masih sangat panjang. Mayoritas negara di dunia masih bergantung pada pasar AS dan nyaman bertransaksi dengan dollar, Mastercard, Visa, serta instrumen finansial Barat lainnya. 

Cina dan Rusia, yang jadi motor penggerak utama gerakan multipolar saja, masih sangat bergantung pada ekspor ke AS untuk menggenjot perekonomian mereka. 

Perang Tarif dengan AS selama pemerintahan Trump diprediksi menghantam sektor industri Cina, dan membuat kapasitas produksi mereka turun ke angka 70 persen. Penurunan sebanyak itu jelas pukulan telak, sebab memaksa perusahaan Cina mengurangi aktivitas dan merumahkan ribuan pegawai sebagai penghematan. 

Alhasil, pengangguran meningkat khususnya di kalangan anak muda. Unjuk rasa dan ketegangan mulai muncul di sejumlah kota, yang berpotensi mengganggu stabilitas dalam negeri. 

Sedangkan Rusia, sektor gas dan minyak mereka begitu terdampak dengan sanksi AS setelah perang di Ukraina berkecamuk. Meski terdapat pembeli alternatif seperti India dan Cina, tetap saja terjadi penurunan. 

Agar bisa mewujudkan dunia multipolar, seluruh negara harus berani mengurangi ketergantungan mereka terhadap AS. 

Namun jika Rusia dan Cina, yang termasuk kekuatan raksasa global saja masih terseok-seok, apakah negara lain mampu?
























Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done